PANDEMI DAN SIASAT MASSA

Menyangga Keberagaman, Keselarasan, dan Kelestarian

PANDEMI DAN SIASAT MASSA

Pandemi global memaksa banyak orang merefleksikan ulang interelasi antar manusia dengan sesama, manusia dengan sumber penghidupan, dan manusia dengan penciptaNya. Lebih dari satu tahun semua orang membatasi mobilitas. Kehidupan kota yang selama ini riuh dan meriah, tetiba menjadi sepi dari hiruk-pikuk. Semua orang harus membangun kesadaran untuk mengekang hasrat. Menjaga jarak, menggunakan pelindung (masker), menjaga kebersihan, mengurangi pergerakan, dan sebisa mungkin melakukan segalanya dari rumah.

Sampai kapan bertahan? Semua orang terdampak tanpa kecuali. Tetapi tidak semua orang mampu bertahan dengan berbagai prosedur ketat kesehatan. Khususnya orang-orang sederhana yang penghidupannya harus berjibaku dari hari ke hari. Ibu-ibu pedagang kecil di pasar, buruh gendong, tukang becak, dan buruh serabutan. Mereka tidak bisa mengandalkan “bantuan” yang tidak pasti datangnya. Mereka harus tetap bergerak untuk survive.

Muncul berbagai istilah asing di telinga seperti, lockdown, PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar), dan PPKM (Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat) sebagai kebijakan membatasi mobilitas. Karena konon, virus ini berkembang dibawa oleh orang dengan ritme mobilitas tinggi. Berbagai pembatasan ini menjadikan “kisruh sosial”. Stigma terhadap para penderita dan survivors covid-19, stigma terhadap pekerja kesehatan, dan berbagai ragam aksi yang di luar nalar saat orang menghadapi situasi ketidakpastian. Penuh ketidakpastian, tetapi kehidupan harus tetap berjalan, live must go on. Berbagai siasat masyarakat muncul untuk mencoba berbagai kegiatan meningkatkan kualitas kesehatan dan kehidupan.

Tumbuh berbagai kreasi komunitas untuk menjaga kesehatan, mentradisikan kembali bersepeda. Orang-orang kota berlomba membeli sepeda. Sampai-sampai semua toko sepeda kewalahan. Mulai dari sepeda harga paling murah hingga sepeda berkelas dengan nilai ratusan juta rupiah habis terjual. Hanya di kala pandemi ini orang membeli sepeda seperti memborong kerupuk. Siasat untuk mengisi waktu juga dikembangkan oleh masyarakat dengan mengembangkan hobi baru bercocok tanam untuk mengembangkan “ketahanan pangan”. Masyarakat perkotaan yang berlahan sempit memanfaatkan kreasi baru dengan bercocok tanam dengan polybag, memanfaatkan kaleng-kaleng bekas dan plastik bekas. Ada juga yang berkreasi dengan media baru, bercocok tanam dan memelihara ikan, yakni budidaya ikan dan tanaman dalam satu media.

Solidaritas juga tumbuh dari berbagai kalangan masyarakat. Muncul berbagai inisiatif komunitas yang membuat dapur umum untuk membantu penyediaan pangan bagi kelompok paling terdampak di perkotaan Yogyakarta secara suka rela. Bahkan sekarang ini masih berlanjut kreativitas membuat halte persediaan bahan mentah, dengan konsep setiap orang bisa menyumbang, dan setiap orang bisa mengambil secukupnya. Pandemi telah melahirkan solidaritas tanpa sekat-sekat. Praktik bertoleransi yang ikhlas muncul di tengah-tengah kesulitan. Semua orang diingatkan untuk meringankan beban sesama dengan cara masing-masing. Warga membantu warga menjadi menjadi kekuatan yang ‘selalu hadir’ dalam siasat di tengah ketidakpastian.

Kesulitan melahirkan berbagai alternatif aksi konkrit, sebagian orang menjadi tergerak untuk berbagi (sharing) satu sama lain. Masyarakat Indonesia memiliki kemampuan luar biasa dalam menghadapi situasi-situasi sulit. Pandemi panjang membuka mata banyak orang untuk bersatu, bergandeng tangan, melepaskan sekat, saling bergotong-royong. Sebuah panggilan (calling) nyata untuk solider. Solidaritas tanpa batas.

Dalam menghadapi pandemi global ini, keragaman kebijakan dan sinergi dari berbagai bangsa dibutuhkan. Perspektif hidup yang ramah terhadap lingkungan, relasi kesetaraan dalam gender, ketahanan pangan, etika kehidupan politik, dan pembangunan sistem kesehatan nasional-global yang adil menjadi keharusan. Dunia membutuhkan tatatan kehidupan yang baru. Penghormatan nilai-nilai kebersamaan, selaras dengan alam, dan keberlanjutan.

Website Sanggaragam mewadahi ruang bagi berkembangnya paradigma keberagaman dalam berbagai aspek kehidupan meliputi keberagaman ekonomi, budaya, sosial, politik dan agama. Paradigma keberagaman ini menjadi penting ketika dunia sekarang ini timpang oleh dominasi paradigma pasar, kapital dan agama. Sanggaragam menyuarakan ragam kelompok yang tidak punya suara dan biasa disebut sebagai orang tanpa sejarah (people without history).

Pada terbitan perdana ini menampilkan tema terkait isu bersama global, pandemi covid-19 yang telah ‘menghentikan’ gerak dinamis modernitas selama satu tahun lebih dengan korban kematian mencapai lebih dari 3 juta orang seluruh dunia (worldometer). Siasat dan strategi, paradoks dalam konteks lokal, kampung dan perspektif global dalam menghadapi dan menyikapi pandemi dalam berberapa sudut pandang  sebagai sebuah momentum untuk tetap bergerak dan bangkit dari penderitaan yang telah meluluhlantakan sendi-sendi kehidupan dari tingkat keluarga hingga negara seluruh dunia.  Selamat Membaca. (Redaksi)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *