MENERJEMAHKAN “TONI MORRISON”

Menyangga Keberagaman, Keselarasan, dan Kelestarian

MENERJEMAHKAN “TONI MORRISON”

Ini dia tugasku selanjutnya: menerjemahkan salah satu karya Toni Morrison. Berat, Sobat. Bakal ambyar kalau tak cermat. Tulisan-tulisan Morrison sungguh ampuh. Pembukanya, tulisan pendek yang menyadarkanku bahwa tema “responses to chaos dan perception of chaos” rupanya masih asing bagi beberapa temanku yang kuanggap berwawasan luas. Bukan berarti mereka berwawasan kurang luas, bukan begitu. Namun aku jadi merasa semakin tertantang untuk menerjemahkan tulisan-tulisan Morrison dengan sederhana, sebagaimana aku mencintaimu, dan lebih tabah dari hujan bulan Juni. Ya ampun! Ingat, ini Morrison, bukan Sapardi!

Penerjemahan esai-esai Morrison ini kupersiapkan secara khusyuk. Pada pertengahan Februari lalu, saat mengepak koper untuk ke Amerika selama 2,5 bulan, aku sudah berniat foto di samping foto Toni Morrison yang dipajang gagah, solo, di salah satu dinding, di ruang tengah lantai 2 National Portrait Gallery, di Washington DC. Beberapa tahun lalu aku menghabiskan waktu sehari di sana untuk melihat potret-potret – foto dan lukisan – orang-orang yang telah berjasa bagi AS dan dunia, termasuk Barack dan Michelle Obama, dan Toni Morrison.

Namun, malang tak dapat ditendang untung tak boleh dirundung, ketika Maret lalu aku kembali ke sana, foto Morrison yang agung, yang memancarkan kekuatan karakternya itu, tak ada. Aku bertanya pada petugas yang berjaga. “I’ve no idea, Ma’am. I’m sorry. It’s not on display today”. Dan aku mendesak, kubilang kalau aku terbang jauh dari balik bumi khusus untuk ke galeri itu. “Please, let me talk to your supervisor”, pintaku, dengan wajah mendamba. Lalu aku mengikutinya turun ke lantai pertama, dipertemukan dengan perempuan berambut keriting keperakan yang tersenyum selebar pintu surga. Si petugas jaga menjelaskan, kemudian, “I’m so sorry ….” tanpa kehilangan senyum, sang supervisor cerita kalau potret Bu Morrison memang sedang ‘dirawat’ dan belum jelas kapan akan didisplay lagi. Lunglai gontai aku berbalik. “Oh! Ma’am … wait please”, serunya dengan suara melodius. Dia bilang aku mungkin – mungkin, ya – bisa menemukan foto Morrison di National Museum of African American History and Culture, sama-sama museum di bawah Smithsonian Institution. Aku pernah ke sana di tahun 2018, museum hebat dahsyat yang baru dibuka secara resmi pada September 2016.

Begitu ada waktu, di pertengahan Ramadhan, bergegas aku ke museum itu. Mungkin karena puasa, mataku jadi makin rabun dan tak kutemukan satu pun fotonya di museum 10 lantai itu. Setelah dua jam, temanku yang membantu mencari mendatangiku dengan wajah cerah, “ada satu, di sana, ditayangkan di layar di bawah langit-langit”. Setelah menunggu beberapa menit, wajah Morrison muncul, tak sampai 10 detik. Untuk berfoto bersama gambarnya di layar, aku harus menunggu sekitar 5 menit sampai tayangan muncul lagi. Dalam temaram lelampu, hasil fotonya tak sejernih yang kumau. Tak apa, yang penting harapanku terwujud. Dalam kunjungan selanjutnya ke tanah air Bu Morrison, beberapa bulan ke depan, aku harus berburu fotonya lagi. Jangan sembunyi, Toni. Aku ingin bertemu!

Catatan: judul buku sengaja tak ditampakkan.

 

Endah Raharjo

Penulis, Penerjemah, Anggota Dewan Redaksi 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.