{"id":1099,"date":"2021-10-10T12:43:45","date_gmt":"2021-10-10T12:43:45","guid":{"rendered":"http:\/\/sanggaragam.org\/?p=1099"},"modified":"2021-10-10T13:47:26","modified_gmt":"2021-10-10T13:47:26","slug":"selamat-jalan-kawan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/udarasa\/selamat-jalan-kawan\/","title":{"rendered":"SELAMAT JALAN, KAWAN!"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/CINDHIL-300x157.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"157\" class=\"alignnone size-medium wp-image-1104\" srcset=\"https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/CINDHIL-300x157.jpg 300w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/10\/CINDHIL.jpg 720w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><br \/>\n<em>Gunawan Maryanto, Kusen Alipah Hadi,<br \/>\nteman-teman Sanggar Anom, dan Bapak Guru Genthong HSA<\/em><\/p>\n<p><strong>(In memoriam Gunawan \u201cCindhil\u201d Maryanto; aktor, penulis, dan sutradara teater)<\/strong><\/em><\/p>\n<p>Pukul 23.59 WIB, aku masih tidak bisa tidur setelah dapat mengakses HP. Barangkali karena perasaan kehilangan, barangkali mengaca diri melihat kondisi kesehatan diri, atau barangkali juga sedang menakar cara hidup teman-teman sekerja yang \u201ckurang sehat\u201d selama berproses kesenian, entahlah. Maka kuputuskan untuk menulis sekenanya sebagai terapi.<\/p>\n<p>Cindhil a.k.a Gunawan Maryanto bukan orang asing. Dia teman, sahabat, barangkali. Itu bisa diukur ketika bertemu. Selalu saja yang terlontar \u201chinaan\u201d atawa \u201cejekan\u201d, sama sekali tak pernah melontarkan pujian. Aku masih ingat detail peristiwanya ketika 7 atau 10 tahun lalu, tetiba ditawari makan siang di jeda acara UNDP di Jakarta. Sebagai gerombolan pemburu makan gratis, tentu langsung OK dan fokus pada menu makanan, tanpa memerhatikan sekitar. <\/p>\n<p>Ketika asyik melakukan verifikasi menu, tetiba ada suara yang tak asing. Fix! Cindhil menjadi pengisi acara jeda makan. Aku langsung ambil posisi di baris depan, menyaksikan aktor \u201ckelas nasional\u201d beraksi. Pertunjukan komedi dengan sisipan pesan-pesan pemberdayaan dan studi kasus. Pasti lumayanlah (honornya).<\/p>\n<p>Selesai pertunjukan, aku sengaja ngeloyor melewati ruang make-up. Tepat di depan pintu yang setengah tertutup, sambil terkekeh, berucap \u201cSaya mau juga diajak ngejob beginian lho, honor setengah juga gak papa. Mayan.\u201d<\/p>\n<p>\u201cPrex\u2026!\u201d jawab Chindil dari dalam. <\/p>\n<p>Di lain kesempatan, saya dan Joned (Suryatmoko \u2013 red.) selalu bilang, \u201cEstetikamu kuwi lho, Ndhil\u201d, sambil menunjuk ke arah pergelangan kakinya yang tak pernah sembuh total dari kudis. <\/p>\n<p>Aku mengenal Chindil sewaktu SMA, semasa tergabung di Sanggar Anom, tempat kami belajar seni pertunjukan. Chindil, aku, Hanung (Bramantyo \u2013 red.), dan teman-teman lain adalah remaja-remaja yang sedang melakukan pemberontakan pada keluarga, memilih keluar dari rumah, dan tinggal di Sanggar. Dan beberapa kali aku memergoki guru kami (Genthong HAS) geleng-geleng kepala, menghela nafas, memberi selimut ketika menyaksikan anak-anak didiknya tidur pulas di atas beberapa level yang menjadi tempat tidur kami. Guru kami itu seperti orangtua kami. Bukan saja mengajar seni pertunjukan, namun juga cara bersikap pada hidup. Sedangkan kami murid-muridnya, menjelma menjadi keluarga besar.<\/p>\n<p>Cindhil adalah satu dari beberapa yang memiliki cerita unik ketika tidur. Dia selalu tidur tanpa celana dalam. Setiap kali sampai sanggar, celana dalam akan dilepas, diletakkan pada \u201ccenthelan\u201d, dan dipakai lagi ketika pergi. Jadi, \u201cseniman nasional itu\u201d ,sesungguhnya, tak bisa membedakan jaket dan celana dalam. Lebih sebel lagi, Chindhil tidur dengan sarung. Jadi ketika pola tidurnya tak teratur, \u201citu\u201d-nya melakukan \u201cpertunjukan dengan bebas\u201d. Sebagai ganjaran, kami selalu melepas sarung atau membuka sarungnya ketika dia bangun belakangan. Maka, jadilah \u201citu\u201d-nya sebagai hadiah pembuka para tetamu yang datang ke sanggar (catatan: sanggar kami terbuka, ya. Tetamu bisa nyelonong seenaknya).<\/p>\n<p>Chindil tidak seperti kami ketika datang ke Sanggar Anom. Sakunya sudah terisi. Chindil adalah pemain teater asuhan Rudy Curennce semasa kanak-kanak. Ia juga masih aktif menjalin relasi dengan alumni teater NAMCE (SMA tukang kelahi di Jogja). Maka, tidak mengherankan jika Chindil adalah gelombang pertama yang memutuskan keluar dari Sanggar Anom, menemukan jalan hidup keseniannya sendiri. Chindil mulai aktif di Teater Garasi (Fisipol), meskipun ia adalah mahasiswa Sastra Jawa. Belakangan, kita mengetahui bahwa Chindil melakuakn pencapaian-pencapaian terbaiknya di bidang sastra, tetaer, dan film.<\/p>\n<p>Selepas Sanggar Anom, saya masih berhubungan erat dengan Chindil dalam rangka kerja kreatif. Sesungguhnya, hal ini adalah cultur kreatif di Jogja. Kita bisa terlibat dalam wadah dan matra seni berbeda. Di sana juga, kita bisa bertemu dengan teman dan kesempatan baru.<\/p>\n<p>Pada waktu-waktu senggang (tidak banyak), Cindhil adalah teman cekikikan, terutama dengan Black (Tri Sugiyarto \u2013 red.) ketika membahas siaran wayang kulit di radio. Bagian Goro-Goro alm. Sigit Sugito adalah bahasan yang tak pernah habis. Kemampuannya melakukan on-off, masuk dalam cerita, keluar mencincang kehidupan rumah tangga para niaga, dan masuk lagi pada Bagong yang memain-mainkan aksen Buto Cakil kami anggap sebagai paripurna.<\/p>\n<p>Ndhil, ingatkah kamu ketika aku dan Joned main ke rumah barumu, melakukan dokumentasi latihan gerak tubuh, dan mengunggahnya di FB? Ya, itu adalah \u201ctandingan\u201d unggahan FB-mu yang menampilkan foto-foto latihan gerak tubuh di rumah barumu, kursus akting dasar untuk para artis sebelum mereka melakuan pengambilan gambar. Kamu pasti ingat! Sebab kau kirim \u201cprex\u201d di HP-ku. Jinganoq kowe, Ndhil! Selamat jalan, kawan! Kalau bertemu bapakku, sampaikan salam dan bilang bahwa kita berteman. Ceritakan juga kita mandi bersama di belik, di Sendowo, sambil membicarakan anak pemilik warung depan sanggar. Sekarang, dia jaga warung ayam tulang lunak dekat Pasca UGM. Jinganoq kowe! Ra iso diverifikasi ta infoku?!<\/p>\n<p>(&#8220;Catatan Kusen&#8221; yang pertama diunggah di GWA Sanggar Anom ini sudah dipublikasikan juga di Tempo &#8211; Red.)<\/p>\n<p><em><strong>Kusen Alipah Hadi<\/strong><\/em><\/em><br \/>\n<em>Antropolog, Direktur Yayasan Umar Kayam, Ketua Koalisi Seni Indonesia<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gunawan Maryanto, Kusen Alipah Hadi, teman-teman Sanggar Anom, dan Bapak Guru Genthong HSA (In memoriam Gunawan \u201cCindhil\u201d Maryanto; aktor, penulis, dan sutradara teater) Pukul 23.59 WIB, aku masih tidak bisa tidur setelah dapat mengakses HP. Barangkali karena perasaan kehilangan, barangkali mengaca diri melihat kondisi kesehatan diri, atau barangkali juga sedang menakar cara hidup teman-teman sekerja&hellip; <br \/> <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/udarasa\/selamat-jalan-kawan\/\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[27],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1099"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1099"}],"version-history":[{"count":11,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1099\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1194,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1099\/revisions\/1194"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1099"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1099"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1099"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}