{"id":1223,"date":"2021-12-17T11:58:13","date_gmt":"2021-12-17T04:58:13","guid":{"rendered":"http:\/\/sanggaragam.org\/?p=1223"},"modified":"2021-12-17T11:58:13","modified_gmt":"2021-12-17T04:58:13","slug":"fauzi-absal","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/geguritan\/fauzi-absal\/","title":{"rendered":"Fauzi Absal"},"content":{"rendered":"<p>Sejak umur 20-an Fauzi sudah menulis puisi, sampai kini umur 70 tahun, dia tak berhenti menulis puisi. Sepertinya dia tak bisa melepaskan puisi dari hidupnya, meskipun ia tahu, puisi tak memberinya hasil secara ekonomis, karena bukan itu yang ia cari dari puisi. Namun dia tahu, puisi memberikan makna hidup, dan dari situlah ia menciptakan makna hidup dalam puisinya. Ia tidak hanya menyajikan makna. Dalam istilah yang dia sebutkan, banyak puisi yang\u00a0 dia temui seperti uang lama, indah menarik dan eksotis, tetapi uang lama itu tidak bisa \u2018dibelanjakan\u2019. Puisi2 Fauzie, mencoba menghadirkan \u2018uang baru\u2019, yang dikenali oleh siapapun. Maka puisi2 Fauzi menggunakan bahasa yang tidak berbelit, tetapi tidak menghilangkan nuansa puitisnya.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/12\/Puisi-Fauzi-Absal.pdf\" class=\"pdfemb-viewer\" style=\"\" data-width=\"max\" data-height=\"max\"  data-toolbar=\"bottom\" data-toolbar-fixed=\"off\">Puisi Fauzi Absal<br\/><\/a>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sejak umur 20-an Fauzi sudah menulis puisi, sampai kini umur 70 tahun, dia tak berhenti menulis puisi. Sepertinya dia tak bisa melepaskan puisi dari hidupnya, meskipun ia tahu, puisi tak memberinya hasil secara ekonomis, karena bukan itu yang ia cari dari puisi. Namun dia tahu, puisi memberikan makna hidup, dan dari situlah ia menciptakan makna&hellip; <br \/> <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/geguritan\/fauzi-absal\/\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1223"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1223"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1223\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1224,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1223\/revisions\/1224"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1223"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1223"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1223"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}