{"id":1452,"date":"2022-06-25T23:19:20","date_gmt":"2022-06-25T16:19:20","guid":{"rendered":"https:\/\/sanggaragam.org\/?p=1452"},"modified":"2022-06-25T23:20:31","modified_gmt":"2022-06-25T16:20:31","slug":"afnan-malay","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/geguritan\/afnan-malay\/","title":{"rendered":"Afnan Malay"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-1453\" src=\"http:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Afnan-Malay-219x300.jpg\" alt=\"\" width=\"219\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Afnan-Malay-219x300.jpg 219w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2022\/06\/Afnan-Malay.jpg 500w\" sizes=\"(max-width: 219px) 100vw, 219px\" \/><\/p>\n<p><strong>Afnan Malay<\/strong>, pencipta Sumpah Mahasiswa (1988), ikon Gerakan Mahasiswa antiOrde Baru. Pada Mei 2020, Afnan membuat antologi puisi melawan Covid-19 berjudul <em>To Kill The Invisible Killer<\/em> (KPG, Jakarta). Pada Agustus di tahun yang sama, dia menerbitkan antologi puisi sendiri, \u201cTentang Presiden\u201d dan \u201cPelajaran Membaca\u201d (Interlude, Yogyakarta). Lalu, puisinya dimuat dalam antologi puisi mantan aktivis mahasiswa \u201cDarah Juang\u201d (2021), diterbitkan MataBangsa, Yogyakarta. Terakhir, puisinya tergabung dalam Antologi Puisi 121 Purnama (2021), dengan pernerbit Tonggak Pustaka, Yogyakarta. Afnan pernah melancong ke sejumlah negara: Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Jepang, India, China, Arab Saudi, Irak, Yordania, Palestina, Belgia, Belanda, Inggris, Swedia, Denmark, dan Chile.<\/p>\n<p><em>Catatan: <\/em><\/p>\n<p>Afnan, rupanya tidak hanya suntuk menjadi aktivis. Ia tak lelah menulis puisi. Rasanya, \u201cSumpah Mahasiswa\u201d yang pernah dibuatnya, bentuk lain dari puisi yang khusus untuk para aktivis mahasiswa. Setelah status mahasiswanya lepas, dan bergiat sebagai pengacara, Afnan tidak berhenti menulis puisi. Buku puisinya sudah terbit, di saat Covid 19 sedang menyerbu. Artinya, di tengah pandemi, Afnan terus berkarya.<\/p>\n<p>Puisi-puisi Afnan seringkali menyajikan kisah persoalan sosial, namun tidak semua puisi menuju ke arah itu. Tiga puisi yang ditampilkan ini, setidaknya pada puisi berjudul \u201cPada Lidahmu\u201d, menangkap persoalan sosial, yang dikristalisasi menjadi puisi, dan dia melihat asal dari persoalan itu pada \u201clidah\u201d. Afnan mencoba mengurai soal itu. Ada juga puisinya yang menggunakan idiom suasana dan alam, seperti \u201cmalam\u201ddan \u201chujan\u201d. Dalam konteks persoalan sosial, yang kompleks dan rumit, ia seperti menemukan ruang gelap, tetapi tidak menghindarinya, sebaliknya, memujanya. Puisi-puisinya penuh harapan, seperti \u201cperi kecil\u201d, yang akan datang, mungkin di hari \u201crabu\u201d. Sebut saja, orang selalu mempunyai harapan, sementara Rabu hanyalah salah satu dari sejumlah hari. Artinya, setiap hari orang selalu mempunyai harapan. Silakan menikmati 3 puisi Afnan berikut:.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Pada Lidahmu<\/strong><\/p>\n<p>kuakui pada lidahmu<br \/>\nluruh semua keluh<br \/>\nkata-katamu tajam. tak<br \/>\nada lagi tepi luput tertikam<br \/>\ndi lidahmu, tempatku tenggelam<\/p>\n<p>pada lidahmu kuakui<br \/>\nsebanyak kata terucap. tak<br \/>\nada lagi nyeri luput tertancap<br \/>\ndi lidahmu, tempatku berharap<\/p>\n<p>kuakui pada lidahmu, selalu<br \/>\nberharap kau julurkan. lalu<br \/>\nkutemui tempatku tenggelam<\/p>\n<p>Jogja, 2022<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Pemuja Gelap<\/strong><\/p>\n<p>kami duduk-duduk di beranda<br \/>\nberjarak di bangku-bangku<br \/>\nseperti kayu di tungku-tungku<br \/>\nmerapat agar api segara menyala<br \/>\nkami saling menyilangkan kaki<br \/>\nberpandangan membuka hari<\/p>\n<p>pernah, aku mengendap-endap<br \/>\nbersijingkat ingin menemuimu<br \/>\nperi pecilku menutur menahan lelap<br \/>\nkala itu. menembus malam menujuku<\/p>\n<p>setarikan helaan nafas. aromanya<br \/>\nterhirup. Sekilas tampak aku gugup<br \/>\ntapi aku tak kuasa menembus gulita<br \/>\nkatanya. Memandangku begitu redup<\/p>\n<p>aku berbalik arah menghindari malam<br \/>\nyang pekat, memilih sendiri, diam<br \/>\ntak menemuimu. langkahku sesenti<br \/>\nsaja mendekapmu. bercumbu lagi<\/p>\n<p>aku tidak kuasa menmbus gelap<br \/>\nlanjut peri kecilku. di negeri kami<br \/>\nterang adalah penjaga. menatap<br \/>\nlurus padauk tak beringsut. kami<br \/>\ntetap duduk di bangku tak berdekap<br \/>\nperi kecilku mengunci hari kami<br \/>\nyang mulai meninggi. pemuja gelap<br \/>\naku tepekur: kalian pemuja gelap<\/p>\n<p>Jogja, 2021<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Rabu Tercekat Haru<\/strong><\/p>\n<p>tunggulah rabu, kata peri kecilku<br \/>\naku lupa kenapa rabu. waktuku<br \/>\nleluasa di hari rabu. sekira hujan<br \/>\nmengguyur kota membasahi badan<br \/>\nkita. akan larut, akan kuhangatkan<\/p>\n<p>janji peri kecilku tak pernah alpa<br \/>\nrabu itu adalah waktu yang kujaga<br \/>\nhujan mnederas dari pagi buta<br \/>\nmenjadi pelancong penyesak kota<\/p>\n<p>tapi kubimbang, ia tak datang<br \/>\nkurapal sejumlah kata. ucapkan<br \/>\nsaatku luput, peri kecilku riang<br \/>\nberdedang buatku ngelangut<br \/>\nlantunkan bila rindumu memagut<\/p>\n<p>ho hi ya hi yo da tang da tang lah<br \/>\npe ri ke cil ku<br \/>\nho hi ya hi yo da tang da tang lah<br \/>\npe ri ke cil ku<br \/>\nho hi ya hi yo da tang da tang lah<br \/>\npe ri ke cil ku<br \/>\nhingga malam tiba, hujan mereda<br \/>\nhening menyapa, sunyi mendera<br \/>\nkuingat nyaris kukupa, peri kecilku<br \/>\nsempat berkata buatku termangu<\/p>\n<p>ada kalanya kau merasakan<br \/>\nkehilangan. hidup tidak sekadar<br \/>\nangan-angan: dadaku berdebar !<\/p>\n<p>Jogja, 2021<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Afnan Malay, pencipta Sumpah Mahasiswa (1988), ikon Gerakan Mahasiswa antiOrde Baru. Pada Mei 2020, Afnan membuat antologi puisi melawan Covid-19 berjudul To Kill The Invisible Killer (KPG, Jakarta). Pada Agustus di tahun yang sama, dia menerbitkan antologi puisi sendiri, \u201cTentang Presiden\u201d dan \u201cPelajaran Membaca\u201d (Interlude, Yogyakarta). Lalu, puisinya dimuat dalam antologi puisi mantan aktivis mahasiswa&hellip; <br \/> <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/geguritan\/afnan-malay\/\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1452"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1452"}],"version-history":[{"count":8,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1452\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1461,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1452\/revisions\/1461"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1452"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1452"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1452"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}