{"id":1467,"date":"2022-07-02T11:32:12","date_gmt":"2022-07-02T04:32:12","guid":{"rendered":"https:\/\/sanggaragam.org\/?p=1467"},"modified":"2022-07-02T15:34:19","modified_gmt":"2022-07-02T08:34:19","slug":"marwanto","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/geguritan\/marwanto\/","title":{"rendered":"Marwanto"},"content":{"rendered":"<p>&nbsp;<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"alignnone size-medium wp-image-1472\" src=\"http:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/maewanto-puisi-300x300.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/maewanto-puisi-300x300.jpg 300w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/maewanto-puisi-150x150.jpg 150w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2022\/07\/maewanto-puisi.jpg 482w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n<p><strong>Marwanto,<\/strong> sastrawan yang memulai proses kreatif sejak 1992 dengan menulis beragam genre: esai, puisi, cerpen, cerkak dan resensi buku yang dimuat di koran (<em>Kompas,<\/em> <em>Media Indonesia, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Suara Karya, Pos Bali, Minggu Pagi, Koran Sindo, Pikiran Rakyat, Mercusuar, Metro Sulawesi,<\/em><em> Solopos, Bernas, Harjo,<\/em> dll), majalah (<em>Gatra, Gong, Syir\u2019ah, Mata Jendela, Pagagan, Suara Hidayatullah, Hai<\/em>), tabloid (<em>Adil<\/em>), buletin (<em>Ikhtilaf, Lontar, Pawon<\/em>) maupun media online (<em>basabasi, lensasastra, detikcom, cendananews <\/em>dll). Menggerakkan aktivitas sastra di tempat tinggalnya lewat Lumbung Aksara (2006-sekarang), mengetuai Forum Sastra-Teater Kulonprogo (2015-sekarang) serta membina komunitas Sastra-Ku (2019-sekarang). Menulis tujuh buku tunggal, yang terbaru <em>Kita+(Duh)-Kita<\/em> (puisi, 2022). Puisi dan cerpennya memenangi sejumlah lomba sastra tingkat nasional.<\/p>\n<p><em>Catatan:<\/em><\/p>\n<p>Marwanto, tinggal di Kulonprogo, memang rajin menulis. Tidak hanya puisi, ia juga menulis cerpen dan esai. Ia juga menulis sastra menggunakan bahasa Jawa, yaitu cerkak \u2013cerita cekak&#8211;. Puisi2nya sudah diterbitkan menjadi buku, baik buku tunggal karyanya sendiri, juga diterbitkan dalam sejumlah antologi puisi bersama penyair Indonesia lainnya.<\/p>\n<p>Puisinya berkisah mengenai kehidupan berikut persoalan yang menyertainya. Ia petik sisi yang menarik dan dihadirkan sebagai puisi. Dua puisinya ini, mengambil kisah seperti itu, setidaknya menyangkut kehidupan, yang mengalir, seolah seperti sungai, atau sering kita dengar ada yang menyebutkan\u201d hidupnya mengalir saja. Begitulah hidup mengikuti gerak alam, percaya bahwa ada kekuatan di luar kehidupan manusia yang mengaturnya.<\/p>\n<p>Namun, bagi Marwanto, kehidupan tidak hanya sekedar mengalir, lurus saja dan berhenti sampai di satu ujung. Namun, selain mengalir, hidup juga menjalar, artinya berguna bagi orang lain. Dalam kata lain, hidup bukan untuk dirinya sendiri, melainkan berguna bagi banyak orang.<\/p>\n<p>Kalau hidup hanya untuk dirinya sendiri, tidak mempunyai perhatian atau kepedulian pada orang lain, seperti orang-orang di jalan, yang abai terhadap sirine ambulan, padahal di dalam ambulan ada orang yang sedang sekarat; tetapie, perhatian pada sirine yang lain, untuk mencarikan jalan pada seseorang yang ada di dalam mobil, agar lancar jalannya. Dua sirine mempunyai arti lain dalam kehidupan, dan orang meresposnnya dengan cara yang berbeda.<\/p>\n<p>Silahkan nikmati dua puisi Marwanto.<\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><strong>Hidupku, Mengalir Menjalar<\/strong><br \/>\n<em>-catatan 50 tahun<\/em><\/p>\n<p>hidupku adalah air. yang mengalir<br \/>\n: gemercik \u2013dari hulu hingga hilir.<\/p>\n<p>hulu itu. rahim itu. rahim seorang ibu.<br \/>\nmelahirkanku. mengasuh jiwa-ragaku<br \/>\ndan di hilir, derai tawa yang selalu riang<br \/>\nmencanda alam \u2013dari fajar hingga petang<br \/>\nsaat datang malam. memeluk erat mimpi<br \/>\njuga obsesi. yang hendak dituntaskan esok hari<\/p>\n<p>hidupku adalah air. yang menjalar<br \/>\n: segala arah \u2013dari pucuk daun hingga akar<\/p>\n<p>di pucuk itu. tauladan itu. tak habis diresapi<br \/>\ndi akar itu. kesabaran yang tak pernah ada tepi<br \/>\nterus menjalar. bergerak berpadu merawat alam<br \/>\ntak terpisahkan. tak juga mampu dihentikan<br \/>\njika sengaja ada yang menyumpal. niscaya uwal<br \/>\nkarena fitrah air selalu mengalir menjalar. kekal<\/p>\n<p>hidupku mengalir. hidupku menjalar<br \/>\ndalam kesahajaan pikir. penghambaan akbar<br \/>\nsungai-sungai yang selalu menghidupi<br \/>\n\u2013segala penghuni<\/p>\n<p>hidupku mengalir. hidupku menjalar<br \/>\ndalam keagungan zikir. menjernihkan nalar<br \/>\nsungai-sungai pembasuh seutuh jiwa raga<br \/>\n\u2013di \u00a0seluruh usia<\/p>\n<p><em>Wisma Aksara_2022<\/em><\/p>\n<p><em><br \/>\n<\/em><strong>Sirine di Negeri Dongeng<\/strong><\/p>\n<p>suara sirine mobil meraung lantang<br \/>\nmenyusuri jalan yang padat kendaraan<br \/>\nterjepit di tengah kerumunan, penuh lalu lalang<br \/>\nyang tak mau menyingkir, yang tak memberi jalan<br \/>\npadahal di dalam mobil tergeletak orang sekarat<br \/>\nyang mungkin beberapa saat lagi akan\u00a0 mangkat<\/p>\n<p>lain waktu sirine mobil kembali meraung<br \/>\nmeluncur dengan gagah membelah kerumunan<br \/>\nmembuat pengguna jalan menyingkir ketakutan<br \/>\ndi dalam mobil duduk\u00a0 santai orang berseragam<br \/>\nsedang berhitung dan ingin membuat panggung<br \/>\nmengadu nasib bertarung di pemilu mendatang<\/p>\n<p>di negeri itu saya mencatat<br \/>\norang lebih takut pada mobil pejabat<br \/>\ndaripada menaruh iba dan hormat<br \/>\npada mobil pengangkut orang sekarat<\/p>\n<p>ah, tapi itu bukan di negeriku<br \/>\njuga bukan juga negerimu<br \/>\nitu hanya ada di negeri dongeng<br \/>\nketika wajah harus tampil bertopeng<br \/>\nbersolek menutup borok dan koreng<\/p>\n<p>ini hanya cerita di negeri dongeng<br \/>\nyang kelak anak cucu akan mencatat<br \/>\npengekal ingatan sepanjang hayat<\/p>\n<p><strong>\u00a0<\/strong><em>Wisma Aksara, 2021<\/em><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&nbsp; Marwanto, sastrawan yang memulai proses kreatif sejak 1992 dengan menulis beragam genre: esai, puisi, cerpen, cerkak dan resensi buku yang dimuat di koran (Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Suara Karya, Pos Bali, Minggu Pagi, Koran Sindo, Pikiran Rakyat, Mercusuar, Metro Sulawesi, Solopos, Bernas, Harjo, dll), majalah (Gatra, Gong, Syir\u2019ah, Mata&hellip; <br \/> <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/geguritan\/marwanto\/\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1467"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1467"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1467\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1473,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1467\/revisions\/1473"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1467"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1467"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1467"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}