{"id":1609,"date":"2022-12-28T23:14:34","date_gmt":"2022-12-28T16:14:34","guid":{"rendered":"https:\/\/sanggaragam.org\/?p=1609"},"modified":"2022-12-28T23:14:34","modified_gmt":"2022-12-28T16:14:34","slug":"eddy-pranata-pnp-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/geguritan\/eddy-pranata-pnp-2\/","title":{"rendered":"Eddy Pranata PNP"},"content":{"rendered":"<p>Eddy Pranata tak pernah lupa akan Tuhan. Dalam situasi apapun, lebih-lebih siatusi duka atau krisis, ia selalu ingat akan tuhan, yang dia sebut sebagai \u2018kumau hanya rinduMU\u2019. Saat menikmati keindahan, di tepi danau misalnya, keindahan yang dia nikmati, tak lepas dari kuasanya, sehingga Eddy merasa takjub sambil berkata:<\/p>\n<p>\u201cdi tepi danau, engkau menjelma bidadari&#8211; mata cahaya<\/p>\n<p>senyum dan tawa, membius dan berderai-derai\u201d<\/p>\n<p>Kuasanya begitu terasa, dan Eddy tak mampu menghadapinya, seolah seperti \u2018tak ada debur laut\u2019. Ia hanya pasrah, sepenuhnya tak bisa apa, seperti \u2018tak ada tangan untuk berpeluk\u2019.<\/p>\n<p>Sebut saja, puisi2 Eddy mencoba memasuki \u2018ruang religi\u2019. Setiap peristiwa yang\u00a0 dia alami ia transendir, sehingga peristiwa itu selalu tidak berdiri sendiri. Mungin dia memahami sebagai teguran, atau apapapun istislahnya, dan mungkin, hal itu merupakan Cara Eddy untuk tidak melupakannya.<\/p>\n<p>Silahkan nikmati 3 puisi Eddy Pranata.<\/p>\n<a href=\"https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2022\/12\/Puisi-Edy-Pranata-PNP.pdf\" class=\"pdfemb-viewer\" style=\"\" data-width=\"max\" data-height=\"max\"  data-toolbar=\"bottom\" data-toolbar-fixed=\"off\">Puisi Edy Pranata PNP<br\/><\/a>\n<p>&nbsp;<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Eddy Pranata tak pernah lupa akan Tuhan. Dalam situasi apapun, lebih-lebih siatusi duka atau krisis, ia selalu ingat akan tuhan, yang dia sebut sebagai \u2018kumau hanya rinduMU\u2019. Saat menikmati keindahan, di tepi danau misalnya, keindahan yang dia nikmati, tak lepas dari kuasanya, sehingga Eddy merasa takjub sambil berkata: \u201cdi tepi danau, engkau menjelma bidadari&#8211; mata&hellip; <br \/> <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/geguritan\/eddy-pranata-pnp-2\/\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":4,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[30],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1609"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/4"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1609"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1609\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1610,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1609\/revisions\/1610"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1609"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1609"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1609"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}