{"id":1646,"date":"2023-01-26T09:56:42","date_gmt":"2023-01-26T02:56:42","guid":{"rendered":"https:\/\/sanggaragam.org\/?p=1646"},"modified":"2023-01-26T09:56:42","modified_gmt":"2023-01-26T02:56:42","slug":"yuliani-luncurkan-100-soneta-di-sastra-bulan-purnama","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/serambi\/yuliani-luncurkan-100-soneta-di-sastra-bulan-purnama\/","title":{"rendered":"Yuliani Luncurkan 100 Soneta  di Sastra Bulan Purnama"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/100-SONETA-220x300.jpg\" alt=\"\" width=\"220\" height=\"300\" class=\"alignnone size-medium wp-image-1647\" srcset=\"https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/100-SONETA-220x300.jpg 220w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/100-SONETA.jpg 704w\" sizes=\"(max-width: 220px) 100vw, 220px\" \/><\/p>\n<p>Sastra Bulan Purnama, yang diselenggarakan secara rutin setiap bulan, dan sudah berjalan 11 tahun, Sabtu 28 Januari 2023 pkl. 15.00, sekaligus mengawali kegiatan tahun baru, akan meluncurkan buku puisi karya Yuliani Kumudaswari, seorang perempuan penyair yang tinggal di Semarang. Bukunya berjudul \u201cTunjung Hati\u201d, yang diterbitkan Tonggak Pustaka Yogya, memuat 100 soneta.<\/p>\n<p>Pergelaran Sastra Bulan Purnama di  tahun baru ini mengambil lokasi yang berbeda dari yang selama ini diselenggarakan. Kali ini, Sastra Bulan Purnama diselenggarakan di Akademi Komunitas Negeri Seni dan Budaya di  Jl. Parangtritis No. 364, Pandes, Panggungharjo, Kec. Sewon, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.<br \/>\nMenyangkut apa yang dimaksud soneta, Wikimedia menuliskannya seperti berikut: \u201cSoneta adalah bentuk kesusastraan Italia yang muncul sejak pertengahan abad ke-13 di Kota Firenze. Soneta lebih digolongkan ke dalam suatu bentuk sastra puisi  oleh para sastrawan.. Bentuk puisi soneta muncul di Indonesia karena dibawa oleh para pemuda Indonesia yang bersekolah di Belanda.. Soneta disenangi oleh para pujangga sebab secara garis besar hampir sama dengan pantun.<\/p>\n<p>\u201cJumlah barisnya cukup luas untuk mencurahkan isi hati sehingga bisa menyatakan berbagai perasaan penyair. Pada zaman Balai Pustaka banyak penyair Indonesia yang menterjemahkan soneta dan akhirnya mengembangkan puisi dengan gaya soneta juga.. Puisi soneta merupakan puisi baru yang terdiri atas 14 baris yang dibagi menjadi 4 bagian\u201d, tulis Wikimedia.<\/p>\n<p>\u201cPenyair Indonesia banyak yang kembali menulis soneta, jumlah barisnya tetap dijaga 14 baris, yang terdiri dari 4 bait. Bait pertama dan kedua terdiri dari 4 baris dan bait ketiga dan keempat terdiri dari tiga baris\u201d, kata Ons Untoro, Koordinator Sastra Bulan Purnama.<\/p>\n<p>Yulisani Kumudaswari, bersama sejumlah penyair lainnya dari berbagai kota di Indoensia, telah menulis soneta dan bukunya diterbitkan KKK, penerbit di Jakarta, yang dikelola sastrawan Kurniawan Djunaedie.<\/p>\n<p>\u201cIni kali Yulani menulis 100 soneta dan diterbitkan menjadi buku dan diluncurkan di Sastara Bulan Purana\u201d, lagi-lagi kata Ons Untoro.<\/p>\n<p>Sejumlah pembaca, yang terdiri dari penyair dan pembaca puisi, dan pembaca tamu akan tampil membacakan puisi soneta karya Yuliani Kumudaswari. Mereka ialah, Landung Simatupang, dikenal sebagai aktor dan penyair, Dhanu Priyo Prabowo (peneliti sastra Jawa), Ninuk Retno Raras (penulis cerpen), Yantoro (pemain teater), Meuz Prazt (perupa), Tosa Santosa (event organizer), dan para pembaca lainnya: Bilya Al-wajdi, Chacha Baninu, Dani Saputra, Vivin Rachmawati, dan Zee Susana. <\/p>\n<p>Selain para pembaca di atas, demikian Ons Untoro menjelaskan, akan tampil pembaca tamu, ialah Sri Surya Widati, Bupati Bantul periode 2010-2015 dan Nugroho Eko Setiyanto, Kepala Dinas Kebudayaan Bantul.<br \/>\nSeorang penyair dari Magelang, yang produktif menulis puisi dan piawai memainkan alat musik, Joshua Igho, akan melagukan dua puisi karya Yuliani Kumudaswari. (*)<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" src=\"http:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/serambi-jan-23-300x200.jpg\" alt=\"\" width=\"300\" height=\"200\" class=\"alignnone size-medium wp-image-1649\" srcset=\"https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/serambi-jan-23-300x200.jpg 300w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/serambi-jan-23-1024x682.jpg 1024w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/serambi-jan-23-768x512.jpg 768w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/serambi-jan-23-1536x1023.jpg 1536w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2023\/01\/serambi-jan-23.jpg 1600w\" sizes=\"(max-width: 300px) 100vw, 300px\" \/><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sastra Bulan Purnama, yang diselenggarakan secara rutin setiap bulan, dan sudah berjalan 11 tahun, Sabtu 28 Januari 2023 pkl. 15.00, sekaligus mengawali kegiatan tahun baru, akan meluncurkan buku puisi karya Yuliani Kumudaswari, seorang perempuan penyair yang tinggal di Semarang. Bukunya berjudul \u201cTunjung Hati\u201d, yang diterbitkan Tonggak Pustaka Yogya, memuat 100 soneta. Pergelaran Sastra Bulan Purnama&hellip; <br \/> <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/serambi\/yuliani-luncurkan-100-soneta-di-sastra-bulan-purnama\/\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":5,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1646"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/5"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=1646"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1646\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":1650,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/1646\/revisions\/1650"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=1646"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=1646"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=1646"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}