{"id":198,"date":"2021-04-13T22:27:55","date_gmt":"2021-04-13T22:27:55","guid":{"rendered":"http:\/\/sanggaragam.org\/?p=198"},"modified":"2021-04-29T13:53:31","modified_gmt":"2021-04-29T13:53:31","slug":"kuliner-peranakan-tionghoa-di-kampung-kranggan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/serambi\/kuliner-peranakan-tionghoa-di-kampung-kranggan\/","title":{"rendered":"KULINER PERANAKAN TIONGHOA DI KAMPUNG KRANGGAN"},"content":{"rendered":"<p>Bertepatan dengan\u00a0 perayaan Paskah bagi umat Kristiani, 3 April 2021, sekelompok warga Peranakan Tionghoa di Poncowinatan Kranggan membuka <em>street food<\/em>\u2019 khas masakan peranakan Tionghoa dan Jawa. Beragam jenis makanan khas Tionghoa seperti dimsum, bakpao, gocengbi, wedang tahu, wedang kacang, sate babi kecap, berpadu dengan makanan lawas cenil, roti jadul, dan es <em>grosok<\/em> pelangi digelar di Jalan Poncowinatan, Kranggan. \u00a0Kegiatan ini digelar setiap sabtu- minggu mulai pukul 16.00 \u2013 21.00 Wib.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-199 size-medium alignleft\" src=\"http:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/kULINER-KRANGGAN-169x300.jpg\" alt=\"\" width=\"169\" height=\"300\" srcset=\"https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/kULINER-KRANGGAN-169x300.jpg 169w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/kULINER-KRANGGAN-576x1024.jpg 576w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/04\/kULINER-KRANGGAN.jpg 720w\" sizes=\"(max-width: 169px) 100vw, 169px\" \/><\/p>\n<p>\u201cKami berinisiatif untuk membuka kuliner khas warga peranakan Tionghoa di Kampung Kranggan sebagai destinasi wisata baru di Yogyakarta\u201d, ujar Pak Mike yang menjadi salah satu tokoh inisiator kuliner khas Poncowinatan Kranggan.<\/p>\n<p>Kampung kranggan dipilih sebagai lokasi mengembangkan kuliner khas peranakan Tionghoa ini karena memiliki posisi strategis dalam jalur sumbu imaginer budaya Kraton Yogyakarta yang membentang dari Laut Selatan, Krapyak, Kraton, Malioboro, Tugu Pal Yogyakata, hingga Merapi.<\/p>\n<p>\u201cTenan yang berjualan di <em>street food<\/em> kuliner peranakan Tionghoa ini beragam, 60 persen keturunan Tionghoa dan 40 persen dari\u00a0 komunitas masyarakat Jawa dan lainnya. Jadi macem-macem\u201d, Katanya. Dari literatur disebutkan peranakan Tionghoa memang sudah menyatu menjadi bagian dari Keindonesiaan sejak berabad lampau. Bahkan sejak Mataram Kuno, sudah ada hubungan diplomasi antara Kekaisaran Tiongkok Dinasti Tang\u00a0 dengan kerajaan Sanjaya (tahun 860 dan 873) seperti ditulis dalam buku <em>History of Tang Dynasty<\/em>.<\/p>\n<p>Komunitas Peranakan Tionghoa ini juga menggandeng Tokoh ulama yang mempunyai komitmen pengembangan toleransi melalui praktik budaya,\u00a0 K.H Muhammad Imam Aziz. \u00a0Kyai Imam Asiz sejak tahun 1990an telah mengembangkan gerakan rekonsiliasi korban dan pelaku krisis politik 65, dan baginya komunitas Tionghoa juga menjadi bagian dari korban yang mendapatkan diskriminasi dari peristiwa tersebut.<\/p>\n<p>Menurut Kyai Imam membangun toleransi tidak perlu dari teori muluk dan rumit, tetapi dari hal yang konkrit yang dapat menyatukan semuanya. Kuliner menjadi ruang untuk membangun interaksi dan saling bekerjasama. Perlu waktu yang panjang dan dimulai dari kegiatan yang sederhana untuk merajut toleransi dengan kelompok minoritas Tionghoa yang mengalami stigmatisasi dan diskriminasi politik.<\/p>\n<p>Sejak dahulu, sebenarnya sudah ada proses akulturasi budaya Tionghoa dan Nusantara lewat makanan.\u00a0 Sebut saja mie ayam, bakso, bakpao, wedang ronde, bakpia telah menjadi bagian dari kebudayaan nusantara. Orang tidak lagi peduli darimanakah asal usul makanan tersebut. Padahal justru penting untuk mengetahui adanya pengaruh dari budaya peranakan Tionghoa.\u00a0 Pengetahuan dan kesadaran tersebut menjadi penting bagi generasi sekarang.<\/p>\n<p>Pembukaan kuliner khas peranakan Tionghoa ini merupakan bagian dari upaya mengembangkan pengetahuan kontribusi warisan budaya Tionghoa dalam budaya Nusantara.\u00a0 Kampung Kranggan juga merupakan sebuah ikon kota Yogyakarta sebagai\u00a0 ruang interaksi ragam masyarakat melalui\u00a0 transaksi ekonomi sehari-hari.\u00a0 Kranggan tidak hanya sebuah pasar tetapi juga Kampung\u00a0 khas Yogyakarta bagi komunitas Peranakan Tionghoa Yogyakarta, seperti halnya Kampung Ketandan, Pajeksan dan Gandekan di Kawasan Malioboro.<\/p>\n<p>Memasuki kawasan Kampung Kranggan keunikan masih dapat kita temukan dengan ragam bangunan kuno percampuran pengaruh bangunan kolonial Belanda dengan kultur Tionghoa. Ada Klenteng Poncowinatan yang masih dipakai untuk berdoa bagi penganut Khong Hu Chu, Tao dan Budha. Model bangunan rumah Tionghoa, gedung organisasi komunitas Tionghoa, bhaktiloka. Kita juga bisa menemukan sekolah Tionghoa, gereja dan warisan budaya lainnya. \u00a0Selera, rasa dan budaya mempertemukan keragaman secara manusiawi dan alami. (HR)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bertepatan dengan\u00a0 perayaan Paskah bagi umat Kristiani, 3 April 2021, sekelompok warga Peranakan Tionghoa di Poncowinatan Kranggan membuka street food\u2019 khas masakan peranakan Tionghoa dan Jawa. Beragam jenis makanan khas Tionghoa seperti dimsum, bakpao, gocengbi, wedang tahu, wedang kacang, sate babi kecap, berpadu dengan makanan lawas cenil, roti jadul, dan es grosok pelangi digelar di&hellip; <br \/> <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/serambi\/kuliner-peranakan-tionghoa-di-kampung-kranggan\/\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[25],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/198"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=198"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/198\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":565,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/198\/revisions\/565"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=198"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=198"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=198"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}