{"id":757,"date":"2021-05-23T16:07:49","date_gmt":"2021-05-23T16:07:49","guid":{"rendered":"http:\/\/sanggaragam.org\/?p=757"},"modified":"2021-05-24T02:34:42","modified_gmt":"2021-05-24T02:34:42","slug":"mekanisme-adaptasi-dan-lompatan-budaya","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/kilas-pandang\/mekanisme-adaptasi-dan-lompatan-budaya\/","title":{"rendered":"Mekanisme  Adaptasi dan Lompatan Budaya"},"content":{"rendered":"<p>Kesadaran seringkali baru hadir ketika dihadapkan dengan kenyataan. Besarnya kesenjangan dan disparitas budaya antara pusat dan pinggiran seketika \u2018menyodok ke ulu hati\u2019 saat dihadapkan dengan realitas sosial yang tak terelakkan.\u00a0 Situasi yang menyesakkan hati menyayat seperti mata pisau menghujam ke dalam dada menimbulkan perih.\u00a0 Dampak pandemi memaksa semua pihak menerima kenyataan untuk bisa tetap bertahan dengan berbagai terobosan kebijakan publik menjaga jarak sosial dan menghindari kerumunan dengan solusi teknologi komunikasi berbasis jaringan internet. Kebijakan belajar dari rumah, bekerja dari rumah, seminar , ujian, jual beli dari rumah menggantikan pertemuan tatap muka (<em>luring<\/em>) dengan sistem <em>daring<\/em>.<\/p>\n<p>Tidak mudah untuk cepat beradaptasi karena pemanfaatan teknologi mengandaikan sistem yang terpusat dengan prasyarat\u00a0 fisik yang harus terpenuhi seperti ketersediaan sistem jaringan internet yang berbasis kabel atau nir kabel menggunakan serat optik. Juga dukungan ketersediaan perangkat teknologi komputer, laptop, mobile phone, yang memenuhi spesfikasi.\u00a0 Tidak cukup dengan ketersediaan sarana dan prasarana teknologi,\u00a0 kapasitas sumber daya manusia yang memadai juga sangat dibutuhkan untuk dapat\u00a0 mengoperasikan teknologi komunikasi tersebut.<\/p>\n<p>Semua kalangan dipaksa untuk memasuki kultur digital. Hal ini menarik karena Indonesia dalam tahapan kebudayaan sesungguhnya belum sepenuhnya melewati kultur agraris. Indonesia masih mencanangkan untuk memasuki industri 4.0 meskipun kita sama sekali belum mengalami revolusi industri sebagaimana negara maju seperti Inggris, Perancis dan lainnya sudah mengalami tahapan revolusi industri sejak abad ke 17.\u00a0 Sekarang ini kita sudah memasuki budaya pasca industri di sebagian negara maju, sementara kita masih dipaksa merangkak menuju\u00a0 kultur industri dengan tertatih.<\/p>\n<p>Bisa dibayangkan bagaimana\u00a0 proses gegar kebudayaan yang dialami oleh lapisan masyarakat Indonesia yang sangat beragam tingkat\u00a0 melek huruf, literasi teknologi, hingga kemampuan mengakses prasarana teknologi berbasis internet.\u00a0 Tak ayal, kita sebenarnya sendang dipaksa menjadi \u2018konsumen\u2019 dari berbagai produk-produk budaya digital yang membangun realitas dari \u2018 dunia maya\u2019. Sebuah dunia yang sesungguhnya nir realitas.\u00a0 Kultur digital sedang membangun penyeragaman \u2018selera\u2019 melalui\u00a0\u00a0 rekaya iklan. Kebutuhan diciptakan dengan strategi iklan yang massif bukan berdasarkan kebutuhan yang nyata.<\/p>\n<p>Meskipun data menunjukkan pengguna internet di Indonesia pada awal 2021 ini mencapai 202,6 juta jiwa. Paling besar akses internet yang dilakukan\u00a0 oleh masyarakat dengan menggunakan tilpun pintar (smartphone) mencapai 98,3 persen dengan rentang usia 16-64 tahun. Tercatat ada 96,4 persen atau 195,3 juta orang Indonesia yang mengakses di internet melalui ponsel genggam. (Kompas, 23\/02\/2021).<\/p>\n<p>Kultur digital memang telah merasuki sendi-sendi kebudayaan kita tanpa terelakkan. Orang kampung kota yang sederhana, bahkan orang yang tinggal di gunung, di pinggiran hutan, dipaksa untuk mengikuti budaya baru yang semakin gencar disosialisasikan melalui iklan yang menawan, seperti dinyalir oleh Bambang K Prihandono dalam rubrik\u00a0 Udarasa, jika tidak mengikuti arus budaya, orang akan mencibir dasar ketinggalan zaman.<\/p>\n<p>Bisa dibayangkan bagaimana dengan\u00a0 masyarakat yang tinggal di pedalaman seperti\u00a0 Papua dimana, akses listrik saja tidak tersedia. Bagaimana mereka akan dapat mengadaptasi budaya \u2018digital ini\u2019. Realitas ini adalah sebuah ketimpangan budaya yang menyesakkan.\u00a0 Apalagi mengikuti, mereka akan langsung \u2018terjun bebas\u2019 menjadi bulan-bulanan dari budaya digital ini, tanpa perlawanan sama sekali.\u00a0 Bahkan kosumen sejati yang dengan mentereng menenteng\u00a0 tilpun pintar, mudah terjebak dalam ritual yang sama, ikut melanggengkan stigmatisasi \u2018keterbelakangan budaya\u2019\u00a0 masyarakatnya sendiri karena tidak mampu mengikuti\u00a0 kultur \u2018konsumen global\u2019 tersebut.<\/p>\n<p>Yang lebih miris, kita juga dihadapkan dengan kenyataan bahwa \u2018budaya digital\u2019 telah menjadi rujukan utama tanpa reserved apa pun, sehingga kultur budaya Indonesia dibangun tanpa \u2018proses menemukan kebenaran yang benar\u2019.\u00a0 Dengan kultur digital semua orang dapat mendapatkan informasi apa pun, dan sulit membedakan antara yang benar dengan \u2018hoax\u2019.\u00a0 Seperti disinyalir oleh Aflin Toffler, penulis ternama, dengan lompatan budaya itu, maka sebenarnya kita sedang memasuki\u00a0 budaya \u2018buta huruf yang kedua\u2019 (<em>second illiteracy<\/em>).<\/p>\n<p>Akibatnya bisa sangat dahsyat,\u00a0 kultur masyarakat tidak mengalami \u2018proses internalisasi mendalam\u2019 tetapi bersifat \u2018reaktif\u2019 dan reaksioner dalam merespon apa saja. Penyesatan pikir menjadi sedemikian menakutkan dan menggilas apa saja, apalagi dibalut dengan \u2018ayat-ayat agama\u2019.\u00a0 Tantangan besar bagi semua pihak untuk membangun budaya yang berbasis pada data ilmiah dan nalar yang waras untuk memanfaatkan perkembangan sains dan teknologi untuk\u00a0 keadaban publik.\u00a0 (Red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kesadaran seringkali baru hadir ketika dihadapkan dengan kenyataan. Besarnya kesenjangan dan disparitas budaya antara pusat dan pinggiran seketika \u2018menyodok ke ulu hati\u2019 saat dihadapkan dengan realitas sosial yang tak terelakkan.\u00a0 Situasi yang menyesakkan hati menyayat seperti mata pisau menghujam ke dalam dada menimbulkan perih.\u00a0 Dampak pandemi memaksa semua pihak menerima kenyataan untuk bisa tetap bertahan&hellip; <br \/> <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/kilas-pandang\/mekanisme-adaptasi-dan-lompatan-budaya\/\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/757"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=757"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/757\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":775,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/757\/revisions\/775"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=757"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=757"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=757"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}