{"id":844,"date":"2021-06-23T16:32:21","date_gmt":"2021-06-23T16:32:21","guid":{"rendered":"http:\/\/sanggaragam.org\/?p=844"},"modified":"2021-06-23T17:29:28","modified_gmt":"2021-06-23T17:29:28","slug":"titik-balik-sosok-arsitek-memilih-tinggal-di-desa","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/sosok\/titik-balik-sosok-arsitek-memilih-tinggal-di-desa\/","title":{"rendered":"Titik Balik: Sosok Arsitek Memilih Tinggal di Desa"},"content":{"rendered":"<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"wp-image-846 alignleft\" src=\"http:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Eko-Prawoto-264x300.jpeg\" alt=\"\" width=\"180\" height=\"205\" srcset=\"https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Eko-Prawoto-264x300.jpeg 264w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Eko-Prawoto-902x1024.jpeg 902w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Eko-Prawoto-768x872.jpeg 768w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Eko-Prawoto-1353x1536.jpeg 1353w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Eko-Prawoto-1024x1163.jpeg 1024w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Eko-Prawoto-951x1080.jpeg 951w, https:\/\/sanggaragam.org\/wp-content\/uploads\/2021\/06\/Eko-Prawoto.jpeg 1656w\" sizes=\"(max-width: 180px) 100vw, 180px\" \/>Nama Eko Agus Prawoto, sudah tidak asing.\u00a0 Seorang\u00a0 arsitek, akademisi dan seniman yang konsisten mengembangkan karya dengan material alami. Salah satunya bambu. Dua dekade terakhir, bambu \u2018mendunia\u2019 dengan sentuhan \u00a0estetik tangan dingin\u00a0 Eko Prawoto. Desain seni instalasi bambu menghiasi danau di Brussel hingga di Arnhem, Belanda. \u00a0Membentuk sebuah pertemuan (<em>encounter<\/em>) dua entitas budaya. Eko Prawoto, barangkali mau menunjukkan bahwa desain bambu tidak kalah dengan selera dan rasa desain negara maju di negeri Barat. Sebuah penegasan, karya berbahan bambu lokal sama derajatnya dengan karya lainnya.<\/p>\n<p>Bukan kebetulan, rasanya sebagai arsitek Eko Prawoto mendapatkan kenyataan ada ruang kehidupan yang dilupakan dalam riuh modernisasi yaitu kehidupan desa dan alam\u00a0 sekitar dengan segala kearifan lokalnya. Eko Prawoto terusik, \u00a0selama ini\u00a0 arsitek lebih mengabdi pada kepentingan industri.\u00a0 Padahal alam semestinya mendapatkan sentuhan arsitek \u00a0agar hidup tetap bertumpu pada alam, \u00a0estetik dan\u00a0 selaras dengan lingkungan.<\/p>\n<p>Kegelisahan Eko Prawoto tentang peran arsitektur\u00a0 terungkap dalam pernyataannya,\u201cArsitektur merupakan intervensi sementara dibandingkan alam yang harus dimenangkan.\u00a0 Arsitektur secukupnya saja\u201d.\u00a0 Sebuah kesadaran reflektif\u00a0 perlunya keberpihakan untuk memberikan sentuhan arsitektur pada alam bukan hanya menonjolkan rekayasa arsitektur yang mengabdi pada tuntutan modernisasi\u00a0 komunitas urban yang berwajah penaklukan ruang.<\/p>\n<p>Sudah 6 tahun terakhir, memasuki tahun ke- 7, Eko Agus Prawoto, memilih tinggal di desa. Baginya ini merupakan sebuah keputusan yang besar.\u00a0 Menurut Eko Prawoto, selama ini arsitektur \u00a0lebih melayani kebutuhan urban, padahal desa juga membutuhkan arsitektur. \u00a0Sebuah titik balik. Eko Prawoto mentransformasikan kegelisahan dalam sikap batin dan tindakan nyata untuk menjadi bagian dari\u00a0 desa yang masih membutuhkan sentuhan \u00a0sains dan estetika.<\/p>\n<p>Bersama dengan lembaga Sejarah Kajian\u00a0 Teknik dan Desain, Fakultas Arsitektur dan Desain, Universitas Kristen Duta Wacana, Eko Prawoto, melakukan kajian sejarah dan teknologi agraris pedesaan dan menggagas \u2018<em>Museum of the ordinary things<\/em>\u2019.\u00a0 Museum ini mencoba mengumpulkan pernik-pernik pengetahuan budaya agraris yang nyaris dilupakan.\u00a0 Menampilkan orang biasa dari desa berbagi\u00a0 kisah dan narasi \u2018pengetahuan lokal\u2019 kepada generasi muda dan publik yang lebih luas. \u00a0Diangkat dalam sebuah ruang \u2018gallery pameran\u2019 di Cemeti Art House, Yogyakarta, bertemu dan bersinergi dengan rupa-rupa dunia keseharian\u00a0 di luar kebiasaan.\u00a0 Sebuah kolaborasi \u2018narasi\u2019\u00a0 yang memanusiakan dan <em>trigger <\/em>bagi kemajuan pengetahuan lokal.<\/p>\n<p>Eko Prawoto mengamati dengan jeli pengetahuan dan teknologi agraris di desa tentang pembuatan alat-alat pertanian seperti sabit (<em>arit<\/em>), cangkul (<em>pacul<\/em>),\u00a0 bajak,(<em>bajak<\/em>), <em>garu <\/em>( menghaluskan tanah bajakan), kampak (<em>pethel<\/em>) dari karya pandai besi (<em>empu)<\/em> yang masih tersisa di desa.\u00a0 Semangatnya, menemukan mutiara-mutiara yang tercecer dari warisan leluhur. Yang bila diabaikan, akan segera hilang ditelan oleh zaman.<\/p>\n<p>Di desa\u00a0 tempat tinggalnya, di Kedondong, Dekso, Kalibawang , Kulon Progo Eko Prawoto\u00a0 dengan mata etnografis dan rasa estetis arsitektur menelusuri dan mengabadikan\u00a0 teknologi agraris. Mulai dari proses pembuatan alat pertanian\u00a0 pada masyarakat desa yang masih bertahan, penjualnnya di pasar tradisional dan interaksinya dengan pemakai yang membentuk sebuah interaksi khas dalam proses produksi dan kreativitas\u00a0 mereka.<\/p>\n<p>Para pejuang teknologi agraris yang bertahan dengan peralatan sederhana, \u00a0pandai besi yang menjadi \u2018partner\u2019nya menyelami, merekam proses kreasi teknologi agraris\u00a0 berbagai jenis peralatan\u00a0 pertanian\u00a0 mendapatkan pengetahuan\u00a0 melalui hubungan personal dan pewarisan turun-temurun. Seperti dikisahkan\u00a0 Eko Prawoto tentang sosok \u00a0Pak Ahmad, yang mendapatkan ilmu dari pendahulunya Pak Bonimin,\u00a0 Pak Pur yang mendapatkan keahilan dari Pak Mul. Satu per satu mereka \u00a0telah menjemput keabadian karena faktor usia. Beruntung masih ada Kismanto yang meneruskan usaha orang tuanya. Tranfer ketrampilan\u00a0 terjadi secara unik. \u00a0Orang yang memiliki\u00a0 kemampuan membuat peralatan pertanian semakin langka dan sedikit. Dan bisa hilang dengan cepat jika tidak didokumentasikan pengetahuan\u00a0 tersebut.<\/p>\n<p>Dalam\u00a0 proses \u00a0pertemuannya\u00a0 dengan para <em>empu<\/em> lokal tersebut, Eko Prawoto \u00a0mendapatkankan banyak pembelajaran.\u00a0 Pengalamannya mengumpulkan pengetahuan tentang teknologi agraris yang nyaris dilupakan tersebut, ada banyak hal yang bisa dipetik. Teknologi desa sesunguhnya membukakan pengetahuan tentang budaya kemandirian, kemampuan membuat alat, ergonomi, kekuasaan, \u00a0tentang rasa, tentang teknologi, tentang keberagaman jenis alat sesuai \u00a0daerah asal dan fungsinya.\u00a0 Hal ini sangat mencerahkan.<\/p>\n<p>Misalkan jenis <em>pethel<\/em>, bentuk <em>pethel <\/em>Yogyakarta berbeda dengan <em>pethel<\/em> dari Muntilan.\u00a0 Setiap daerah memiliki keunikannya sendiri.\u00a0 Demikian halnya sabit, ada beragam jenis sabit dibuat berdasarkan fungsinya. Ada sabit untuk membelah, ada sabit untuk memotong, ada sabit untuk membuat lubang, \u00a0ada jenis sabit untuk <em>irat-irat<\/em> (membuat bilah tipis dari bambu untuk kerajinan). Terdapat varian ragam yang luar biasa sesuai dengan daerahnya.<\/p>\n<p>Satu hal yang penting sebagai ciri-ciri desa adalah kemandirian membuat alat sendiri sesuai dengan kebutuhan. Seperti sabit ada beragam jenis yang dibuat sesuai dengan kebutuhan.\u00a0 Dalam perkembangan, sabit dibuat untuk kepraktisan juga, sehingga satu jenis sabit bisa digunakan untuk fungsi yang beragam.\u00a0 Sangat berbeda dengan kota yang semuanya disediakan oleh eksternal.<\/p>\n<p>Jika ditesisik dalam sejarah, Eko Prawoto menemukan \u00a0relief di\u00a0 Candi Sukuh\u00a0 yang menggambarkan\u00a0 alat pertanian yang relatif hampir sama bentuk dan fungsinya dengan yang sekarang masih digunakan oleh para petani. \u00a0Sejarah pengetahuan lokal kita sudah berkembang lama, seperti ditemukan dalam jejak relief\u00a0 di Candi Sukuh tersebut.<\/p>\n<p>Akan tetapi, Eko Prawoto mendapati bahwa pengetahuan lokal ini belum terdokumentasi.\u00a0 Kemudian juga menarik untuk menggali\u00a0 bagaimana pengetahuan lokal\u00a0 menjadi\u00a0 pengetahuan baru.\u00a0\u00a0 Pengetahuan\u00a0 lokal itu ada, akan tetapi bisa hilang ketika kita abai dan tidak menangkapnya. Pertanyaannya seberapa besar yang masih memiliki kepedulian untuk merawat\u00a0 pengetahuan tersebut?<\/p>\n<p>Yang menarik\u00a0 adalah mencermati\u00a0 rantai pasar sebagai proses interaktif antara pengguna dengan\u00a0 pembuat.\u00a0 Desain lahir dari umpan balik penggunanya.\u00a0 Relasi antara penjual, pemakai dan desainer erat. Penjual menjadi \u2018mediator\u2019 yang menyampaikan keinginan para pemakai kepada desainer, sang empu. Ada sesuatu yang hidup, sebuah interaksi antara\u00a0 pembuat,\u00a0 penjual dan pemakai yang saling melengkapi.\u00a0 Sebuah desain terbentuk berdasarkan masukan dari kebutuhan, bukan semata hasil\u00a0 disain pembuatnya seorang. Simpul kreatif dari interaksi sosial turut memengaruhi\u00a0 variasi ragam produksi teknologi masyarakat pedesaan.<\/p>\n<p>Eko Prawoto juga mendapatkan pembelajaran\u00a0\u00a0 berbagai pengetahuan baru \u00a0dalam proses\u00a0 teknologi pembuatan alat pertanian.\u00a0 Misal, arang sebagai bahan baku membuat api untuk membentuk peralatan dari besi. Ada beberapa jenis \u00a0arang yang bagus, yakni \u00a0arang dari bahan kayu jati, dan \u00a0bambu ampel. \u00a0Konon bahkan arang terbaik itu dibuat dari pohon kamboja.\u00a0 Demikian juga fungsi arit dan desain berkembang dari fungsinya. Untuk masyarakat di hutan, bentuk arit akan berbeda, lebih lurus dan pajang.\u00a0 Sebaliknya,\u00a0 arit lengkung dengan beragam fungsi berkembang di daerah\u00a0 pertanian.<\/p>\n<p>Kontekstualisasi dengan perkembangan generasi sekarang dapat dilakukan melalui kolaborasi dengan para arsitek. Ini dapat membuka simpul kreatif. Jika dulu bentuk peralatan teknologi agraris berkembangan berdasarkan fungsi dan kebutuhan, sekarang dapat dieksplorasi untuk produksi asesories yang menyasar pada\u00a0 estetika dengan pangsa para kolektor seni.\u00a0 Eko Prawoto juga menemukan jenis teknologi agraris yang dibuat dengan detail estetik untuk kepentingan koleksi kelas tertentu.\u00a0 Ada proses stilisasi produk yang menghasilkan berbagai\u00a0 detail desain seni dengan mengeksplorasi\u00a0 bentuk-bentuk imitasi dari alam sekitar. \u00a0Jadi karya para empu sesungguhnya juga dapat dikembangkan untuk membentuk\u00a0 adaptasi produk sesuai dengan perkembangan zaman.<\/p>\n<p>Indonesia banyak membutuhkan sosok yang mempunyai kepedulian terhadap warisan kekayaan pengetahuan untuk didokumentasikan, dirawat, dan dikembangkan sebagai pengetahuan baru dengan sentuhan-sentuhan\u00a0 \u2018sains dan estetika\u2019 sehingga menghasilkan desain sesuai dengan dinamika perkembangan.\u00a0 Sosok Eko Prawoto, seorang Arsitek, akademisi dan seniman yang mendapatkan banyak penghargaan atas karya-karya otentiknya menginspirasi kesadaran pentingnya untuk\u00a0 \u2018berpihak\u2019 pada akar kehidupan agraris yang menjadi kekhasan dari negeri ini, sehingga berangkat dari\u00a0 kekayaan pedesaan, kita dapat belajar kembali tentang semangat kemandirian, rasa, selera dan martabat sebagai manusia dari hal-hal biasa (<em>The ordinary things<\/em>). (HR)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Nama Eko Agus Prawoto, sudah tidak asing.\u00a0 Seorang\u00a0 arsitek, akademisi dan seniman yang konsisten mengembangkan karya dengan material alami. Salah satunya bambu. Dua dekade terakhir, bambu \u2018mendunia\u2019 dengan sentuhan \u00a0estetik tangan dingin\u00a0 Eko Prawoto. Desain seni instalasi bambu menghiasi danau di Brussel hingga di Arnhem, Belanda. \u00a0Membentuk sebuah pertemuan (encounter) dua entitas budaya. Eko Prawoto,&hellip; <br \/> <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/sosok\/titik-balik-sosok-arsitek-memilih-tinggal-di-desa\/\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[34],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/844"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=844"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/844\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":857,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/844\/revisions\/857"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=844"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=844"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=844"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}