{"id":851,"date":"2021-06-23T17:05:58","date_gmt":"2021-06-23T17:05:58","guid":{"rendered":"http:\/\/sanggaragam.org\/?p=851"},"modified":"2021-06-24T16:42:52","modified_gmt":"2021-06-24T16:42:52","slug":"ironi-dinamika-kota-yogyakarta","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/kilas-pandang\/ironi-dinamika-kota-yogyakarta\/","title":{"rendered":"IRONI DINAMIKA KOTA YOGYAKARTA"},"content":{"rendered":"<p>Penciptaan tidak bisa lepas dari kemampuan imaginatif.\u00a0 Akan tetapi imaginasi juga membutuhkan ruang-ruang yang memungkinkan orang menemukan inspirasi\u00a0 dalam mengolah imaginasinya.\u00a0 Kota adalah ruang dinamis yang melahirkan banyak karya-karya seni, sastra, arstiek, lukis, dan rupa-rupa produksi kreatif lain.\u00a0 Kota Yogyakarta sebagai kota bersejarah sekaligus menjadi ikon bagi tumbuhnya kreativitas sastrawan yang legendaris.\u00a0 Pada tahun 1970-an, tumbuh berbagai\u00a0 ruang-ruang kreatif anak-anak muda yang menggembleng diri dalam berbagai wadah aktivitas seni sastra.\u00a0 Malioboro merupakan ikon yang menjadi simpul lahirnya sastrawan. Ada sosok Umbu Landu Paranggi yang ditahbiskan sebagai\u00a0 \u2018Presiden Malioboro\u2019 para seniman muda di zamannya. Umbu Landu Paranggi dengan Persada Studi Klub (PSK) menjadi pendidik para seniman seperti Emha Ainun Najib, Eha Kartanegara, Mustofa W Hasyim, Linus Suryadi AG (alm), Korie Layun Rampan (alm), Darwis Khudori, Iman Budi Santosa (alm), dan masih banyak lagi. Malioboro tidak hanya ruang komersil, pusat perbelanjaan barang-barang kebutuhan sehari-hari. Tetapi Malioboro juga tumbuh menjadi spot yang \u2018<em>nyeni<\/em> dan unik\u2019. Malioboro menjelma menjadi ruang tumbuhnya daya imaginasi para seniman teater, penulis sastra, musik, film dan juga kesenian tradisi khas lokal, dalam menempa kualitas karya seninya. Para penulis ini juga\u00a0 didukung oleh industri kreatif media massa yang menjadi kanal ekspresi mereka seperti <em>Kedaulatan Rakyat<\/em>,<em> Harian Bernas<\/em>,\u00a0 <em>Masa kini<\/em> dan <em>Pelopor Yogya<\/em>.<\/p>\n<p>Pada ujung Jalan Malioboro, ada ruang tumbuhnya kreativitas panggung budaya , Yogyakarta, Senisono. Tempat para seniman mengekspresikan imaginasi karya kreatifnya. Tempat manggung, tempat bertemu, para seniman, tempat kongkow yang asyik, tempat berbagi pengalaman, di atas semua itu, tempat \u2018belajar\u2019.\u00a0 Di Malioboro, kita juga menemukan bioskop, tempat \u2018tempat hiburan murah\u2019, tempat masyarakat menikmati dan mengapresiasi karya-karya film nasional yang mekar pada waktu itu. Pendek kata, Malioboro adalah ikon kota yang menjadi \u2018ruang <em>srawung<\/em>\u2019, ruang belajar berbagai seniman, sastrawan, pemusik jalanan, dan kehidupan keseharian orang-orang biasa yang berjuang, menghidupi diri dan identitasnya.<\/p>\n<p>Ruang belajar mendidik \u2018selera dan rasa\u2019 budaya itu juga hadir di Pendopo Dalem Kadipaten, yang menjadi tempat belajar Seni Drama dan Film. Di pendopo itu berdiri ASDRAFI. Yang melahirkan tokoh perfilman nasional seperti Teguh Karya, Arifin C. Noer, dan Putu Wijaya.\u00a0 Kampung juga menjadi ruang belajar mendidik \u2018rasa\u2019 para seniman Teater yang tergabung dalam Bengkel Teater yang digawangi oleh Aktor kesohor, WS. Rendra mengembangkan proses kreatifnya di tengah \u00a0Kampung Patangpuluhan, Kota Yogyakarta. Rendra dan teman-temanya berlatih di tengah kampung, ditonton oleh banyak anak-anak dan orang-orang kampung. Selain itu, Sebelah Utara Kampung Patangpuluhan, di Gampingan juga menjadi ruang kreatif bagi para seniman lukis, dan perupa yang ternama dengan ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia).\u00a0 Kota Yogyakarta seolah tidak pernah berhenti melahirkan komunitas-komunitas kreatif\u00a0 selanjutnya seperti Teater Gandrik, Teater Alam, Teater Garasi dan Komunitas-komunitas seni lainnya.<\/p>\n<p>Kota Yogyakarta pada zamannya menjadi konteks bagi tumbuhnya imaginasi kreatif para seniman dalam berbagai <em>genre<\/em>. Kota menjelma menjadi ruang-ruang \u2018kreatif, toleran, dan kondusif\u2019 bagi proses pendidikan \u2018rasa\u2019, menguji \u2018selera\u2019 dan mematangkan \u2018intuisi\u2019. Sehingga Malioboro menjadi sebuah\u00a0 judul lagu gubahan kelompok Keroncong Etnik, Kua Etnika, pimpinan Djaduk Ferianto (alm), dan juga KLA yang mengabadikan Yogyakarta sebagai lagu hitnya pada tahun 1990an. Ada juga kelompok musik Swara Ratan (KSR) yang banyak membuat lirik dan lagu jalanan. \u00a0Pertanyaannya, sekarang apakah Kota Yogyakarta yang dulu memberikan \u2018iklim kreatif\u2019 bagi pertumbuhan pendidikan \u2018rasa, dan selera\u2019 kebudayaan masih ada? Atau telah berganti dengan hiruk-pikuk kemeriahan \u2018pasar\u2019\u00a0 pada setiap sudut.\u00a0 Setiap penggal ruang di Malioboro telah menjelma menjadi spot-spot komersial dari ujung ke ujung. Ruang-ruang \u2018<em>srawung<\/em> dan simpul kreatif kota telah digusur menjadi pusat-pusat perbelanjaan, dimana semakin sedikit ruang belajar tentang \u2018rasa, kehalusan budi pekerti, dan selera\u2019 akan tetapi orang memanjakan diri dalam\u00a0 arus \u2018konsumerisme\u2019 dan tradisi \u2018<em>leisure<\/em>\u2019. Malioboro hanya dikenal menjadi spot <em>kongkow <\/em>bagi wisatawan, yang haus untuk membelanjakan rupiah dan memuaskan rasa dahaga dan membeli kenyamanan \u2018sejarah budaya\u2019 Yogyakarta yang sesungguhnya mati suri oleh ganasnya kapital.<\/p>\n<p>Di setiap sudut kota Yogyakarta, ruang-ruang telah berubah menjadi \u2018tontonan dan pameran\u2019 hasrat modernitas, dengan selera yang seragam.\u00a0 Hotel-hotel berbintang, hotel melati, hingga rumah-rumah hunian disulap menjadi <em>homestay<\/em> untuk memanjakan \u2018para <em>voyeurs<\/em>\u2019. Apakah ini tanda kematian \u2018pendidkan selera dan rasa\u2019 ruang-ruang kreatif sebuah kota?\u00a0 Ataukah wajah seni telah sedemikian tunduk oleh gegaman selera pasar? \u00a0Tampaknya Kota sekarang telah mengalami perubahan signifikan. Kosumerisme radikal telah menjadikan kota \u2018kehilangan ruh\u2019\u00a0 keterbukaannya.\u00a0 Yang mengusik perasaan budaya, dalam waktu bersamaan sekarang Kota Yogyakarta justru bersemi kantong-kantong \u2018 pengerasan nuansa agama\u2019 yang memenuhi sudut-sudut ruang publik. Kombinasi kapitalisme dan kepatuhan agama ini menjadi sedemikian massif menghegemoni\u00a0 ruang-ruang kota hingga di tingkat Rukun Tetangga. Sungguh pemandangan <em>absurd<\/em>, jika bukan sebuah ironi. (Red)<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Penciptaan tidak bisa lepas dari kemampuan imaginatif.\u00a0 Akan tetapi imaginasi juga membutuhkan ruang-ruang yang memungkinkan orang menemukan inspirasi\u00a0 dalam mengolah imaginasinya.\u00a0 Kota adalah ruang dinamis yang melahirkan banyak karya-karya seni, sastra, arstiek, lukis, dan rupa-rupa produksi kreatif lain.\u00a0 Kota Yogyakarta sebagai kota bersejarah sekaligus menjadi ikon bagi tumbuhnya kreativitas sastrawan yang legendaris.\u00a0 Pada tahun 1970-an,&hellip; <br \/> <a class=\"read-more\" href=\"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/kilas-pandang\/ironi-dinamika-kota-yogyakarta\/\">Read more<\/a><\/p>\n","protected":false},"author":3,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_themeisle_gutenberg_block_has_review":false,"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/851"}],"collection":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/users\/3"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=851"}],"version-history":[{"count":10,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/851\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":876,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/851\/revisions\/876"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=851"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=851"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/sanggaragam.org\/index.php\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=851"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}