CERITA MENYAPU DI WAKTU MAGRIB

Menyangga Keberagaman, Keselarasan, dan Kelestarian

CERITA MENYAPU DI WAKTU MAGRIB

Oleh Junaedi, S.E.

Kabar hilangnya cincin pernikahan Siti, di saat lantunan azan magrib menggema, sontak menggegerkan seantero kampung kecil di mana saya tinggal. Kejadian bermula ketika Siti yang berprofesi sebagai guru swasta di Kabupaten Sleman, baru saja pulang dari mengajar di sekolahnya sebelum azan magrib. Ketika masuk rumah, Siti merasa risih karena lantai rumah yang dilewatinya kotor sekali. Tanpa ba bi bu lagi, Siti langsung mengambil sapu dan menyapu lantai rumahnya yang ia risih dibuatnya karena sentuhan telapak kaki-kakinya. Belum selesai Siti menyapu, tiba-tiba tanpa sengaja cincin pernikahannya dengan Hanafi jatuh menggelinding dan sempat menimbulkan bunyi ting … ting … ting…. Tetapi petang itu, mungkin menjadi hari yang naas bagi Siti. Mujur tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, setelah hampir setengah jam lebih Siti mencari di semua sisi rumahnya, cincin nikah tersebut tak ditemukannya.

Perihal hilangnya cincin yang merupakan simbolisasi ikatan pernikahan antara Siti dan Hanafi yang disaksikan oleh Tuhan, petugas KUA, dan semua masyarakat dari dua keluarga besar Siti dan Hanafi, membuat Siti serba salah. Dalam batinnya,  ”Apakah saya harus berterus terang kepada Mas Han, ataukah saya rahasiakan saja?”. Tetapi, akhirnya Siti membulatkan tekad untuk berterus terang kepada suaminya, apa pun yang terjadi sebagaimana janji mereka berdua untuk jujur satu sama lain.

Malam harinya, di atas ranjang yang mereka tiduri, Siti memulai mencurahkan isi hatinya kepada sang suami.

“Mas Han, malam ini Siti mau curhat boleh?”, tanya Siti sedikit gugup.

“Curhat aja, silahkan. Jangan gugup begitu, Dik”, jawab Hanafi.

“Tadi ketika Siti pulang mengajar, lantai rumah kita kotor sekali. Kemudian Siti menyapu lantainya, ketika pas azan magrib cincin pernikahan kita jatuh menggelinding entah ke mana, dan sampai sekarang belum ketemu juga, Mas Han”, lanjut Siti.

Kecemasan Siti yang semakin menjadi-jadi, bahkan sempat berimajinasi kalau-kalau suaminya akan marah besar, namun ternyata Hanafi memperlihatkan kedewasaannya dengan jawaban datar dan singkatnya: ”Oh, begitu, insyaallah besok ketemu, kok, dengan izin Allah”. Seakan mengerti betul bahwa saat itu kondisi mental istrinya baru tidak stabil, malam hari itu akhirnya mereka dapat menikmati tidur dengan pulasnya sampai terdengar lantunan azan subuh.

Esok harinya, Hanafi berusaha ikut mencari cincin tersebut di semua sudut ruang tamu. Sudah satu jam ia menyisir tiap sudut ruang tamu, tetapi belum juga membuahkan hasil. Sepertinya nasib baik belum berpihak pada keluarga ini.

***

Sayangnya, sore kemarin ketika Siti sedang mencari-cari cincin nikah tersebut, datanglah Tutik si “Lambe Turah” di kampung kecil saya. Walaupun saat itu, masih hanyut dalam perasaan yang sedih, Tutik yang mulai dibuat kepo, menanyakan bagaimana kronologinya kok cincin pernikahan tersebut bisa sampai  hilang begitu. Diceritakanlah oleh Siti apa yang baru saja menimpanya dari A sampai Z, tidak dilebihkan dan tidak kurangi. Tetapi dasar si Lambe Turah, informasi ini diolah oleh Tutik dan didramatisasi dengan bumbu-bumbu mitos atau kepercayaan orang Jawa tentang larangan menyapu di malam hari. Akhirnya, drama cerita hilangnya cincin pernikahan Siti mendadak jadi viral di kampung kecil saya.

Bumbu-bumbu mitos yang sudah dipanjanglebarkan Tutik, akhirnya memengaruhi warga kampung kecilnya menjadi dua kubu. Kelompok debatable antara yang pro dan kontra terhadap mitos yang terjadi di masyarakat, khususnya kaum emak-emak. Jamaah pengajian ibu-ibu atau yang lebih dikenal dengan sebutan emak salihah sudah barang tentu menolak pendapat yang memercayai mitos tersebut, dan mereka berpendapat bahwa peristiwa yang barus saja menimpa Siti sebagai hal biasa, yang bisa saja dialami oleh semua warga masyarakat. Tetapi golongan emak-emak yang nJawani sangat yakin kalau Siti telah melanggar mitos tentang larangan para leluhur yang sudah akrab di telinga kita dengan sebutan “ora ilok”.

Cerita yang disebarluaskan oleh Tutik akhinya sampai juga ke telinga Hanafi. Hanafi tidak tinggal diam, karena mulai terusik dengan gosip murahan Tutik yang punya julukan si Lambe Turah tersebut. Nalar berpikir Hanafi yang paling ekstrem, mendorongnya untuk membeli cincin yang mirip dengan cincin pernikahannya yang dipakai oleh Siti ke toko emas ia pesan waktu itu. Untung saja, model cincin yang dulu dipesan di toko itu, masih terdokumentasi dengan baik sehingga tidak mengalami kendala sedikit pun dalam proses orderannya. Hanya saja yang berbeda adalah harganya, karena harga waktu itu jauh lebih murah daripada harga  saat ini, tetapi hal itu tidak membuatnya mundur dan membatalkan orderannya. Tujuannya hanya satu yaitu untuk melawan omongan si Lambe Turah. Dan kemudian antara Hanafi dan pihak toko emas telah deal, bahwa proses pembuatan cincin sampai jadi adalah satu minggu.

***

Selama ini, keluarga Siti memang dikenal sebagai keluarga yang modern, berpikiran logis terhadap persoalan social-budaya masyarakat kampung. Maklum saja, keluarga Siti keluarga paling terpelajar di antara keluarga-keluarga yang masih tradisionalis. Ada yang pro dengan nalar berpikir keluarga Siti, tetapi banyak juga yang kontra. Dan patut diduga, viralnya kabar ini, bisa jadi merupakan puncak persoalan bola liar di kampung kecil saya, yang bisa jadi sudah lama ditunggu-tunggu oleh warga yang memercayai mitos sebagai bentuk pengakuan akan kepercayaan yang mereka yakini selama ini. Lepas dari masuk akal atau tidaknya mitos-mitos yang sudah berkembang di masyarakat.

Memang selama ini, belum ada bukti yang nyata bagi pelanggar mitos tersebut. Apakah orang tersebut akan mengalami hal buruk, ataukah akan mengakibatkan ketidakbahagiaan bagi pelaku pelanggar mitos, ataukah bisa berakibat membahayakan pelaku pelanggar mitos? Dan masih banyak pertanyaan-pertanyaan yang berkembang dalam menyikapi persoalan tentang mitos di kampung saya. Puncaknya adalah yang dialami oleh Siti dan keluarganya. Peristiwa hilangnya cincin pernikahan pada saat sedang menyapu di waktu magrib bagi yang memercayai sebuah mitos sebagai kepatuhan kepada para leluhur dianggap sebagai pembuktian keapesan karena sudah melanggar larangan leluhur.

***

“Benar kan? Karena berani-beraninya melanggar larangan para leluhur kita maka menemui hal yang tidak diinginkan. Terus sekarang bagaimana nasib Siti selanjutnya, sekarang cincin pernikahannya hilang, bisa jadi suatu hari suaminya bakal meninggalkannya”, kata Tutik pada emak-emak yang pro dengan mitos.

“Apa betul, Tut, seperti itu?”, tanya salah satu emak pada Tutik.

“Jelas betul. Mitos kok dilawan”, jawab Tutik mantap.

“Pokoknya ini menjadi pelajaran bagi kita semua.Jjadi orang Jawa itu jangan lupa Jawanya, orang kampung berlagak seperti orang kota, sok modern, sok-sokan”, cerocos Tutik menyindir Siti.

***

Benar saja, akibat mulut lebarnya Tutik, yang pro dengan mitos semakin bertambah banyak. Setiap hari mereka bergosip tentang Siti melulu, lebih parahnya lagi sampai pada gosip tentang nasib rumah tangga Siti dan Hanafi yang menurut mereka bakal berantakan. Bahkan mereka meramalkan sampai kapan umur pernikahan Siti dan Hanafi. Ternyata kelompok emak-emak ini, di samping percaya mitos juga percaya pada ramalan.

Padahal sebelum adanya peristiwa hilangnya cincin pernikahan, keluarga Siti dan Hanafi merupakan keluarga yang dihormati warga di kampung kecil saya. Mereka hidup bahagia. Baik Siti maupun Hanafi saling terbuka dan saling percaya. Setahu saya, tidak ada wanita idaman lain atau pria idaman lain di antara mereka berdua. Mereka adalah hamba-hamba Tuhan yang taat dan rajin beribadah. Oleh warga kampung saya, Hanafi ditunjuk sebagai salah satu imam musala.

Mereka hidup seperti warga umumunya, bergaul dengan tetangga dekat dengan baik. Bergotong-royong membersihkan lingkungan sekitar kampung, membersihkan rumput makam, dan ikut membangun musala, juga selalu menghadiri undangan ketika ada warga kampung yang hajatan, melayat ketika ada salah satu warga yang meninggal dunia, bahkan terkadang Hanafi yang disuruh menjadi rais tahlilan. Bagaimana nalar berpikir Tutik dan gengnya yang meramalkan bubarnya pernikahan keluarga ini? Bahkan menurut saya pribadi, Tuti dan Hanafi merupakan salah satu contoh keluarga harapan seperti yang diprogramkan oleh Kantor Urusan Agama. Insyaallah mereka berdua sakinah, mawaddah, dan warahmah.

***

Lain Tutik lain pula argumentasi Edi. Mewakili kaum terpelajar, Edi yang merupakan ketua Karang Taruna di kampung saya memberikan nalar berpikir terkait dengan sisi lain dari mitos. Hal ini ia sampaikan di dalam sebuah pertemuan rutin setiap malam Jumat Kliwon di hadapan para pemuda dan pemudi kampung menyikapi, adanya pro dan kontra terhadap mitos larangan menyapu ketika malam hari.

“Menurut saya, mengapa para leluhur kita memberi wejangan tentang larangan menyapu ketika malam hari, alasan yang dapat diterima oleh logika berpikir sebagai berikut:

Pertama, ketika malam hari suasana gelap kurang terang jadi bagi siapa saja walaupun sudah dibantu lampu penerangan, maka mata kita tidak akan fokus pada sampah atau kotoran yang akan kita sapu. Karena mata tidak focus, maka bisa jadi akan ada barang-barang yang kecil yang bisa jadi barang berharga ikut tersapu apalagi bagi orang tua yang penglihatannya sudah tidak normal lagi. Kedua, untuk menghindari serangan hewan liar seperti ular dan sejenisnya, maka kita tidak diperbolehkan menyapu pada malam hari. Apalagi untuk menyapu halaman rumah ynag luas, mata kita tidak mungkin akan bisa melihat sekeliling kita dalam suasana kegelapan malam. Jadi, dua hal itu hal baik dari larangan menyapu di malam hari. Bukan yang lain-lain. Apalagi seperti yang sedang digosipin Tutik dan gengnya“.

Lebih lanjut Edi menambahkan, ”Memang benar jadi orang Jawa itu jangan sampai lupa Jawanya, tetapi jadi orang Jawa jangan sak enake udele dewe. Wong orang baik-baik seperti Bu Siti dan Pak Hanafi malah diramal bubrah. Ini kan tidak bisa diterima oleh akal sehat kita.”

***

Hari Minggu pagi, terik mentari mulai masuk ke ruang tamu. Tak ada angin dan tak ada hujan. Mimpi apa Siti semalam. Pagi itu, Siti yang masih terbawa perasaan sedih karena barang berharga pemberian suaminya, hilang entah ke mana. Tiba-tiba, ada cahaya putih kecoklatan menyilaukan mata Siti. Ternyata, sumbenya dari bulatan kecil berbahan emas yang di dalamnya tertulis nama Hanafi. Langsung saja dengan perasaan bahagia Siti menghampiri sumber cahaya tersebut. Betul saja, memang benar-benar cincin emas hadiah khusus di hari pernikahan yang terselip di bawah vas bunga di ruang tamu. Perasaan Siti berubah seratus delapan puluh derajat menjadi berbunga-bunga tiada tara.

Langsung saja Siti berlari tergopoh-gopoh ingin cepat-cepat memberitahukan kepada Hanafi suaminya, yang sedang melaksanakan salat duha.

“Mas Han … Mas Han … Cincin pernikahan kita, alhamdulillah sudah ketemu, Mas”, ungkapan kegembiraan Siti kepada suaminya pagi itu.

Selesai salat duha, Hanafi menghampiri istrinya yang sedang merasakan kebahagiaan yang tak terhingga dikarenakan sudah ditemukannya cincin pernikahannya, seraya mengucap syukur, ”Alhamdulillah, ya Allah”.

Siti tidak tahu, bahwa sesungguhnya yang meletakkan cincin pernikahan di bawah vas bunga adalah Hanafi yang baru diambilnya dari toko emas kemarin sore.

***

Kabar ditemukannnya cincin pernikahan Siti kembali menjadi trending topic lagi di kampung kecil saya. Kali ini, berita ini mematahkan mitos larangan menyapu di malam hari dari perspektif yang berbeda. Kali ini, warga kampung mulai menyadari bahwa para leluhur memberikan wejangan dengan larangan tertentu adalah untuk tujuan kebaikan hidup manusia. Bukan dari sudut pandang kejadian buruk apa yang bakal menimpa ketika seseorang melanggar mitos. Prediksi atau ramalan Tutik dan gengnya bahwa hilangnya cincin nikah akan berakibat keluarganya bakal berantakan tidak terbukti. Apa yang dilakukan oleh Siti, ketika pulang ke rumah kemudian lantainya kotor dan secara refleks ingin menyapunya tidak bisa disalahkan. Adapun kebetulan kejadian pas waktu magrib dan tiba-tiba barang berharga milknya hilang adalah dua hal yang berbeda dan tidak bisa dikait-kaitkan dengan mitos yang dipercayai oleh warga.

***

Kabar ditemukannya cincin nikah milik Siti langsung direspons oleh Tutik dengan keheranan tingkat tinggi seraya membatin, “Kok bisa ketemu cincinnya?”. Ternyata ada dua cincin pernikahan milik Siti. Cincin pernikahan pertama milik Siti yang hilang pada saat terdengar adan magrib sebetulnya sudah ditemukan oleh Tutik, tapi cincin ini disembunyikan dan dirahasiakan agar dia bisa leluasa menyebarkan hoax bertopik mitos. Cincin pernikahan kedua milik Siti, adalah cincin yang baru saja jadi setelah diorder selama seminggu yang lalu dari toko yang sama dengan desain dan bahan yang sama persis tetapi beda harga oleh Hanafi dengan maksud agar berita hoax Tutik si lambe turah dapat dipatahkan oleh penemuan cincin tersebut.

Junaidi, S.E.

Warga Bantul

CATATAN:

Cerpen ini merupakan salah satu karya terpilih peserta Workshop “Menulis Cerpen Berbasis Mitos” yang diselenggarakan Sanggaragam.org bekerja sama dengan Pokja Gubuk Putih, LIKE Indonesia, dan Kalurahan Panggungharjo dalam 6 kali pertemuan tatap muka pada bulan Oktober – Desember 2021.

Leave a Reply

Your email address will not be published.