Category: Geguritan

Menyangga Keberagaman, Keselarasan, dan Kelestarian

D’Eros Sudardjono

Menjalani kehidupan memang tidak selalu dalam suasana gempita, sesekali merenung, membuat jarak terhadap masalah, sekaligus upaya mengatasi kejenuhan. Begitulah Eros D Sudardjono dalam menjalani kehidupan. Ia tidak hanya menulis puisi, melainkan juga melukis. Kejenuhan yang dialami, bisa dialihkan dalam kerja kreatif. Renungan yang dia lakukan menghasilkan beberapa puisi, tiga di antaranya bisa anda baca disini.

Indri Yuswandari

Indri Yuswandari, sekarang tinggal di Wlingi, Blitar. Sebelumnya menetap di Kendal. Ia rajin menulis puisi. Selain buku puisi tunggal karyanya sudah diterbitkan, puisi2nya masuk dalam sejumlah antologi puisi bersama penyair Indonesia lainnya. Indri, bersama perempuan penyair lainnya, sering tampil membaca puisi di sejumlah kota. Indri seperti terus terpanggil menulis puisi. Agaknya, puisi bagian dari hidupnya,…
Read more

Rita Ratnawulan

Rita,  tampaknya dekat dengan ibunya, sehingga seringkali sedih kapan melihat ibunya terlihat sedang berduka. Atau mungkin sedang berdiam diri, tapi Rita melihanya seperti sedang berduka. Ibunya masih terlihat cantik, seperti bulan purnama. Karena usianya sudah tua, sehingga bulan hanya terlihat separuh. Disisi yang lain, Rita sering termenung sendirian, seolah seperti sedang mimpi. Dalam kesendirian itu,…
Read more

Marwanto

  Marwanto, sastrawan yang memulai proses kreatif sejak 1992 dengan menulis beragam genre: esai, puisi, cerpen, cerkak dan resensi buku yang dimuat di koran (Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Suara Merdeka, Suara Karya, Pos Bali, Minggu Pagi, Koran Sindo, Pikiran Rakyat, Mercusuar, Metro Sulawesi, Solopos, Bernas, Harjo, dll), majalah (Gatra, Gong, Syir’ah, Mata…
Read more

Afnan Malay

Afnan Malay, pencipta Sumpah Mahasiswa (1988), ikon Gerakan Mahasiswa antiOrde Baru. Pada Mei 2020, Afnan membuat antologi puisi melawan Covid-19 berjudul To Kill The Invisible Killer (KPG, Jakarta). Pada Agustus di tahun yang sama, dia menerbitkan antologi puisi sendiri, “Tentang Presiden” dan “Pelajaran Membaca” (Interlude, Yogyakarta). Lalu, puisinya dimuat dalam antologi puisi mantan aktivis mahasiswa…
Read more

Dedet Setiadi

Puisi Dedet seringkali mengejutkan, imajinasinya liar, sehingga pilihan kata yang diambil menghidupkan puisinya. Ia seolah tak pernah berhenti merenung, meski jalan hidupnya ‘mengharuskan’ tak bisa berhenti bergerak. Rupanya, merenung yang dilakukan Dedet tidak harus sendirian di ruang sunyi. Justru bertemu dengan orang lain adalah cara dia merenung. Antara ‘hati dan laku” bukan area yang terpisah,…
Read more

Selsa

Setelah kepergian suaminya, Selsa sepertinya tak bisa melepas rindu. Denyut hidupnya seolah selalu tak kuat segera kembali bertemu. Dunia yang dijalani sudah berbeda, tetapi ingatan tidak bisa sirna. Ia sering membayangkan, seolah seperti sedang jalan menuju pulang, untuk bertemu yang dirindukan, yang disebutnya ‘Kekasih Jiwa’. Rupanya, kerinduannya bukan hanya pada suaminya yang telah tiada, tetapi…
Read more

Waty Sumiati Halim

Harapan seringkali menjadi nyala api dalam kehidupan, apapun bentuk harapan itu. Bisa berupa cinta, yang kadang jika diceritakan tidak akan pernah usai, lebih-lebih cinta dua sejoli. Selalu saja ada yang ingin diceritakan. Menyangkut akan harapan dalam kehidupan, Waty menuliskannya dalam puisi. Memang masih perlu diendapkan, agar apa yang dia renungi sebagai harapan merasuk, dan dengan…
Read more

Sus S. Hardjono

Sus S. Hardjomo. Perempuan penyair dari Sragen. Sehari-harinya sebagai guru. Tak lelah menulis puisi. Puisi2nya sudah terbit dalam bentuk buku, baik buku tunggal karyanya, maupun antologi puisi bersama penyair Indonesia lainnya. Ia, bersama para penyair lainnya, sering membacakan puisinya di beberapa tempat, termasuk di Yogya, Semarang, Tegal, dan tentu saja Sragen. Tiga puisi Sus, demikian…
Read more

Nok Ir

Menulis puisi jika berangkat dari sesuatu yang dikenali, atau setidaknya dialami, seringkali memberi kesan puisinya terasa riil, sehingga puisinya terasa dekat dengan persoalan kehidupan, yang mungkin juga dialami orang lain. Puisi Nok Ir,  berada dalam situasi seperti itu. Puisinya tidak hanya ‘memotret’ sehingga seolah seperti ‘kenyataan’. Nok Ir memberikan dimensi, dengan demikian puisinya tidak sangat…
Read more