BUKAN IDENTITAS KEMANUSIAAN YANG PENTING

Menyangga Keberagaman, Keselarasan, dan Kelestarian

BUKAN IDENTITAS KEMANUSIAAN YANG PENTING

Foto Agus Handoko (Red Sanggaragam/HR)

Sosok satu ini adalah Agus Handoko. Seorang keturunan peranakan Tionghoa yang tinggal di Kampung Cokrokusuman, Kemantren Jetis Yogyakarta. Ia rakyat kebanyakan, orang biasa. Tetapi ia mampu ‘menembus’ semua kalangan. Mulai kerabat keraton, komunitas Tionghoa, Jawa, lintas suku dan agama hingga kalangan bawah yang biasa disebut ‘orang tidak enak dimakan’ atau kelompok preman jalanan. Prinsipnya berkarya nyata dan sederhana untuk sesama yang membutuhkan. Tidak memandang identitas, kemanusiaan yang penting.

Darahnya mengalir berbagai campuran, ada darah Tionghoa, Arab dan Jawa. JIka orang bertanya berasal dari suku apa, tidak ada yang tepat untuk menggambarkannya. Orang Indonesia itu mungkin paling tepat. Dalam arti tertentu, bisa disebut kosmopolit atau hibrida. Bisa juga orang keturunan peranakan Tionghoa. Karena ia memang terlahir sebagai peranakan campuran dan diberi nama Tionghoa, Tjan Kim Hong. Akan tetapi sehari-hari, ia lebih suka menggunakan nama Indonesia, Agus Handoko. Sebab, ia lahir, besar dan hidup di tanah air Indonesia.

Sebagai peranakan Tionghoa, Pak Agus, tidak seperti yang kebanyakan peranakan yang lain, bergelut di dunia bisnis. Ia orang peranakan tetapi tidak ‘punya toko’. Pak Agus justru banyak bergaul dengan orang-orang sederhana, tokoh masyarakat dari semua kalangan. Ia memiliki kelebihan ‘menyambungkan’ berbagai pihak. Semacam mediator, jembatan, dan penghubung yang selalu aktif dalam berbagai urusan kemanusiaan. Gayanya apa adanya, sederhana, murah senyum dan jika sudah berkomitmen selalu diwujudkan sampai kelihatan hasilnya.

Di kalangan preman ‘lawas Jogja’ yang hidup di sekitar Sosrowijayan. Pak Agus menjadi teman mereka. Pak Agus menghimpun para preman Sosrowijayan dalam organisasi Laskar Jogja (LasJog), bersama ustad muda yang sedang naik daun, Gus Miftah. Pak Agus mendorong para preman berubah lebih baik. Strateginya sederhana, Pak Agus mendampingi mereka, sehingga mereka hijrah menjadi ‘preman tobat’. Pak Agus mendorong mereka untuk mengekspresikan diri secara positif melalui training Thai Boxing di rumah salah satu tokoh preman Jogja di Gandekan, Gedongtengen.

Kelincahan Pak Agus memasuki berbagai kalangan diakui banyak pihak, baik kalangan peranakan Tionghoa dan para pejabat lokal Pemerintah Daerah hingga tokoh Kasultanan dan Pakualaman Yogyakarta. Ia merupakan salah satu orang yang bergerak secara senyap dibalik revitalisasi kawasan Pecinan di Ketandan, belakang Malioboro sebagai kawasan heritage khas peranakan Tionghoa. Ia dipercaya oleh Kundha Kebudayaan Kota Yogyakarta untuk merestorasi rumah Tan Jing Sing, seorang tokoh kapiten China, yang kemudian menjadi Bupati di Keraton Yogyakarta, menjadi museum arsitektur rumah Tionghoa. Pak Agus Handoko juga menjadi anggota JCACC (Jogja Chinese Art and Culture Center) yang menginisiasi Pekan Budaya Tionghoa Yoyakarta (PBTY) yang selalu diselenggarakan setiap tahun bersamaan dengan peringatan Tahun Baru China (Perayaan Sincia) dengan berbagai acara pameran, pentas budaya peranakan Tionghoa (barongsai-liong, wayang potehi, tari-tarian dan musik).
komunitas Tionghoa di Yogyakarta sangat beragam. Kita seringkali tidak memperhatikan tetapi sesungguhnya komunitas Tionghoa juga tidak seragam. Mereka berasal dari berbagai sub suku di daratan Tiongkok. Di Yogyakarta setidaknya ada 14 organisasi sub suku Tionghoa yang berhimpun dalam JCACC. Mereka aktif menyelenggarakan Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta dalam 15 tahun terakhir. Dari literatur disebutkan masyarakat Tionghoa sangat beragam, terdiri dari 48 sub suku. Populasi mayoritas, sekitar 80 persen adalah suku Han yang memandang diri sebagai paling murni ‘Tionghoa totok’, sementara yang lain menjadi minoritas.

Sebagai keturunan perankan Tionghoa di Yogyakarta, Pak Agus memandang bahwa Yogyakarta meskipun disebutkan sebagai pusat peradaban dan kebudayaan yang terbuka dan toleran terhadap berbagai perbedaan, namun sangat sedikit narasi sejarah yang mengungkap tentang pengakuan dan kontribusi dari orang-orang peranakan Tionghoa selama ini. Oleh karena itu, Pak Agus menginisiasi gagasan untuk menciptakan ruang interaksi publik agar lebih mengenal budaya Tionghoa yang telah berintegrasi dengan budaya Indonesia melalui wisata kuliner dan budaya khas Peranakan Tionghoa di Poncowinatan Kranggan.

Melalui wisata kuliner khas peranakan Tionghoa menjadi ruang untuk mengetahui berbagai jenis makanan yang Tionghoa yang sudah menjadi makanan Indonesia. Ada berbagai jenis makanan yang sudah diadaptasi dalam kebudayaan Indonesia seperti bakso, bakmi, bakwan, wedang ronde, dan banyak ragam makanan lain. Interaksi budaya Tionghoa dengan nusantara sudah terjadi sejak zaman Mataram Kuno hingga sekarang. Pengetahuan ini yang menurut Pak Agus penting untuk membangun pemahaman generasi muda tentang proses akulturasi budaya yang membentuk keberagaman budaya Indonesia. Baginya, makanan dapat menyatukan berbagai persoalan secara lebih alami dan sederhana. Ia yakin pengetahuan yang baik akan melahirkan kesadaran kemanusiaan.

Pak Agus merupakan sosok sederhana, namun ia jeli melihat peluang dan membangun kehidupan yang lebih toleran melalui berbagai aksi-aksi konkrit bagi kemanusiaan bagi yang membutuhkan. Mulai dari berbagai aksi karitatif hingga pemberdayaan ekonomi pada masyarakat yang membutuhkan dan pelestarian warisan budaya di sekitar Yogyakarta. Di masa pademi Pak Agus aktif membantu masyarakat kecil yang kurang mampu dengan menghimpun tangan-tangan baik dari komunitas Tionghoa. Dalam rangkaian peringatan Imlek nasional beberapa payuguban Tionghoa antara lain: Budha Tzu chi, Permabudhi, INTI, PITI dan PSMTI menghimpun dukungan dan membagikan 1 juta paket beras. Untuk Yogyakarta, Pak Agus bersama dengan organisasi peranakan Tionghoa ambil bagian dalam membagikan 260 ton beras selama 4 bulan. Pak Agus bekerja secara sukarela, ia menjadi tangan rahmat, memastikan ‘solidaritas’ sampai ke tangan yang tepat. Baginya adalah kebahagiaan jika bisa berkontribusi bagi sosial kemanusiaan. Jika sudah berkomitmen, ia bekerja total sampai tujuan tercapai.

Sebagai seorang peranakan Tionghoa muslim, ia mampu membangun jejaring yang luas dengan berbagai tokoh lintas agama, suku, budaya, maupun profesi. Perannya sangat penting menjadi ‘jembatan’, menghubungkan banyak ragam kepentingan untuk kebaikan bersama. Sekarang ini, Kita membutuhkan banyak ‘Agus-Agus’ lain untuk membangun potensi keberagaman suku, agama, budaya, ekonomi menjadi berkah, bukan sumber konflik. Keberagaman sebagai sumber kegembiraan dan kekayaan bagi kemajuan kemanusiaan dan peradaban. (HR)

Leave a Reply

Your email address will not be published.