Tidak Bisa Melihat

Menyangga Keberagaman, Keselarasan, dan Kelestarian

Tidak Bisa Melihat

Aku sering mendengar beberapa orang tua berkata bahwa mata milik Ita buta, karena itu apa pun yang disampaikan oleh Ita tidak dianggap benar. Tentu aku kebingungan, kenapa pendapat Ita itu salah padahal Ita berkata benar.

Pernah suatu hari aku melihat Ita bertikai dengan pedagang sayur. Ita bersikeras mengatakan bahwa sayur yang berada di salah satu peti yang dibawa oleh si Pedagang pedagang tidak segar lagi. Tersinggung, si Pedagang memaki Ita. Aku tidak ingin mengingat kata-kata kotor pedagang yang bersumbu pendek itu. Namun, ada kalimat yang kuingat jelas, “Wanita buta macam kau mana bisa melihat mana sayur yang segar mana yang tidak! Daripada kau merecoki usaha orang lain mending kau minta-minta saja di jalanan!”

Jelas, amarah si pedagang sudah mengaburkan akal sehatnya. Tetapi yang membuat aku bingung, aku mendengar bahwa Ita “mencium” bau busuk, bukan “melihat”. Lalu kenapa si pedagang mengungkit tentang Ita yang tidak bisa melihat?

Hari itu, seperti biasa, aku pergi ke pasar membeli kebutuhan sehari-hari. Tak sengaja aku berpapasan dengan Ita yang sedang duduk di kursi mengantre bakso. Kusapalah dia, berbasa-basi, sebelum aku mengutarakan maksudku yang sebenarnya.

“Mbak Ita, saya nggak pernah berpikir kalau mbak suka berkata yang tak benar. Tetapi kenapa Mbak Ita tetap tenang-tenang saja dibilang begitu?”

Ita menoleh ke arahku, heran dengan pertanyaanku yang tiba-tiba. Ita kemudian menjawab,
“Mau saya berkata benar atau salah, toh, apa bedanya kalau si pendengar nggak mau mendengar yang ingin saya katakan.”

“Kenapa tidak ada yang mau mendengar? Saya tidak pernah mendengar sekalipun Mbak Ita berkata salah, Mbak Ita selalu mengatakan hal yang mbak ketahui pasti, nggak ada kata-kata mbak yang hanya mengandai-andai.”

“Mas memang sudah lama belanja di sini, tapi belum selama itu untuk tahu kalau saya ini anak dari penipu yang suka nipu pedagang disini, karena itu.”

“Owalah, maksudnya bapak-ibu yang ada di sini itu penglihatannya, maaf, agak kabur, ya?”, potongku lugas.

“Heh, Mas ini, lho! Jangan ngomong begitu, nggak sopan. Lagipula dari mana asal pernyataanmu itu?”, seru Ita terkejut mendengar perkataanku.

“Habisnya, kalau memang bapak nya Mbak Ita itu penipu, apa mbak sendiri juga penipu? Kalau begitu, ya sudah jelas, mana mungkin ada yang mau bicara nya sama mbak. Apa jangan-jangan sekarang mbak lagi nipu saya?”

“Saya sama sekali tidak pernah menipu orang mana pun!”

“Kalau begitu memang benar, kan, bapak-ibu yang ada di sini lebih buta daripada Mbak? Orang-orang yang jelas mengerti betul bahwa perkataan dan perilaku Mbak Ita selalu jujur, tetapi menutup mata dengan dalih bapak Mbak Ita seorang penipu atau Mbak Ita nggak bisa melihat.”

Ita terdiam. Aku cukup yakin bahwa sebenarnya Ita sudah tahu kalau dirinya sama sekali tidak ikut bersalah atas kesalahan bapaknya. Lagi pula, mereka tidak bisa berbagi lidah bukan? Namun, ya, perilaku seseorang akan mem p engaruhi lingkungannya, terutama keluarga. Sebuah keluarga bisa dicap buruk hanya karena satu anggotanya berbuat nista, dan aku paham kenapa hal itu bisa terjadi.

“Kalau begitu, biarkan saja. Saya dan mereka sama-sama buta, kami tidak bisa melihat dengan jelas satu sama lain.”

Setelah mengucapkannya, Ita segera beranjak dari kursi untuk mengambil baksonya, begitu pula aku.

Berpisahlah aku dengan Ita dengan bakso di tangan masing-masing. Aku tertawa kecil, ternyata orang-orang di pasar ini tidak hanya buta karena uang, tetapi masa lalu.

“Orang yang sama-sama buta, ya … Meskipun Mbak Ita memang beneran buta, tetapi Mbak sendiri yang ingin tetap “buta”. Ketika mbak atau pedagang di sini sudah memutuskan untuk membuka mata, kira-kira aku masih belanja di sini nggak, ya?”

Dewi Anandasari
Kelas XI, SMA N 1 Sleman
Peserta Kelas menulis “Story Telling” – Sanggaragam

Leave a Reply

Your email address will not be published.