Joko Rabsodi
Kematian bukan hanya disertai duka, tapi seringkali membawa luka. Ketika kematian belum sepenuhnya bisa lepas dari ingatan, seolah kematian yang sudah tak lagi berinetaraksi, karena masih terus melekat dalam ingatan, sehingga seperti selalu mengajak ‘Dialog Kematian’ Begitulah kemetian yang tak segera pergi dari ingatan, seperti selalu berada di dekatnya. Meskipun ‘sunyi’, tetapi seperi ‘ada jutaan cahaya’.
Kematian, luka dan syukur bisa ditemukan dalam 3 puisi Joko. Kehidupan memang tak bisa lepas dari ketiganya. Hanya saja, yang ketiga, yakni syukur, orang seringkali alpa. Melalui puisi ‘Difabel’ Joko berkata lirih, menyangkut apa yang dipamahami sebagai syukur, meski dalam ‘ketidaksempurnaan’.
Puisi Joko Rabsodi