Month: April 2021

Menyangga Keberagaman, Keselarasan, dan Kelestarian

Dokumen Publikasi

Warta Kampung Online 2010 Jurnal-kampung-3

Tentang Kami

Yayasan Pondok Rakyat merupakan sebuah lembaga nirlaba yang didirikan pada tahun 1985 oleh Romo Mangunwijaya (sastrawan, budayawan, arsitek, dan pastor), Darwis Khudori (arsitek, sastrawan, sejarawan, dan budayawan), dan I Ketut Winarta (arsitek). Pada awalnya YPR bergerak di bidang perancangan arsitektur seperti Pertapaan Biarawati Bunda Pemersatu di Gedono, Salatiga (yang mendapat Penghargaan Ikatan Arsitek Indonesia pada…
Read more

PANDEMI DAN SIASAT MASSA

Pandemi global memaksa banyak orang merefleksikan ulang interelasi antar manusia dengan sesama, manusia dengan sumber penghidupan, dan manusia dengan penciptaNya. Lebih dari satu tahun semua orang membatasi mobilitas. Kehidupan kota yang selama ini riuh dan meriah, tetiba menjadi sepi dari hiruk-pikuk. Semua orang harus membangun kesadaran untuk mengekang hasrat. Menjaga jarak, menggunakan pelindung (masker), menjaga…
Read more

CERITA KEBERAGAMAN KAMPUNG LEDOK TUKANGAN

Kampung Ledok Tukangan berada di sebelah timur Malioboro dan bantaran Sungai Code dengan karakter kampung perkotaan (urban kampung) karena padatnya penduduk dan rumah yang menghimpit satu sama dengan yang lain. Kampung Ledok Tukangan memiliki 3 wilayah atau 3 RW 9 ( Rukun Warga ) dan 15 RT ( Rukun Tetangga ) dengan penduduk setiap RT…
Read more

INDEKS TOLERANSI YOGYAKARTA MENGKHAWATIRKAN

Yogyakarta sebagai kota toleran menghadapi tantangan serius. Ketegangan sosial pada tingkat masyarakat meningkat dalam lima tahun terakhir dengan berbagai aksi vandalisme terhadap beberapa makam di Kota Yogyakarta seperti yang terjadi di Sasanalaya Pringgolayan dan Gejayan. Kekerasan terhadap kelompok minoritas seperti tindak kekerasan pada jemaat di Gereja Santa Lidwina, dan  diskriminasi  minoritas  penganut Hindu di Mangiran.…
Read more

BUKAN IDENTITAS KEMANUSIAAN YANG PENTING

Sosok satu ini adalah Agus Handoko. Seorang keturunan peranakan Tionghoa yang tinggal di Kampung Cokrokusuman, Kemantren Jetis Yogyakarta. Ia rakyat kebanyakan, orang biasa. Tetapi ia mampu ‘menembus’ semua kalangan. Mulai kerabat keraton, komunitas Tionghoa, Jawa, lintas suku dan agama hingga kalangan bawah yang biasa disebut ‘orang tidak enak dimakan’ atau kelompok preman jalanan. Prinsipnya berkarya…
Read more

KULINER PERANAKAN TIONGHOA DI KAMPUNG KRANGGAN

Bertepatan dengan  perayaan Paskah bagi umat Kristiani, 3 April 2021, sekelompok warga Peranakan Tionghoa di Poncowinatan Kranggan membuka street food’ khas masakan peranakan Tionghoa dan Jawa. Beragam jenis makanan khas Tionghoa seperti dimsum, bakpao, gocengbi, wedang tahu, wedang kacang, sate babi kecap, berpadu dengan makanan lawas cenil, roti jadul, dan es grosok pelangi digelar di…
Read more