Afnan Malay

Menyangga Keberagaman, Keselarasan, dan Kelestarian

Afnan Malay

Afnan Malay, pencipta Sumpah Mahasiswa (1988), ikon Gerakan Mahasiswa antiOrde Baru. Pada Mei 2020, Afnan membuat antologi puisi melawan Covid-19 berjudul To Kill The Invisible Killer (KPG, Jakarta). Pada Agustus di tahun yang sama, dia menerbitkan antologi puisi sendiri, “Tentang Presiden” dan “Pelajaran Membaca” (Interlude, Yogyakarta). Lalu, puisinya dimuat dalam antologi puisi mantan aktivis mahasiswa “Darah Juang” (2021), diterbitkan MataBangsa, Yogyakarta. Terakhir, puisinya tergabung dalam Antologi Puisi 121 Purnama (2021), dengan pernerbit Tonggak Pustaka, Yogyakarta. Afnan pernah melancong ke sejumlah negara: Singapura, Malaysia, Vietnam, Thailand, Jepang, India, China, Arab Saudi, Irak, Yordania, Palestina, Belgia, Belanda, Inggris, Swedia, Denmark, dan Chile.

Catatan:

Afnan, rupanya tidak hanya suntuk menjadi aktivis. Ia tak lelah menulis puisi. Rasanya, “Sumpah Mahasiswa” yang pernah dibuatnya, bentuk lain dari puisi yang khusus untuk para aktivis mahasiswa. Setelah status mahasiswanya lepas, dan bergiat sebagai pengacara, Afnan tidak berhenti menulis puisi. Buku puisinya sudah terbit, di saat Covid 19 sedang menyerbu. Artinya, di tengah pandemi, Afnan terus berkarya.

Puisi-puisi Afnan seringkali menyajikan kisah persoalan sosial, namun tidak semua puisi menuju ke arah itu. Tiga puisi yang ditampilkan ini, setidaknya pada puisi berjudul “Pada Lidahmu”, menangkap persoalan sosial, yang dikristalisasi menjadi puisi, dan dia melihat asal dari persoalan itu pada “lidah”. Afnan mencoba mengurai soal itu. Ada juga puisinya yang menggunakan idiom suasana dan alam, seperti “malam”dan “hujan”. Dalam konteks persoalan sosial, yang kompleks dan rumit, ia seperti menemukan ruang gelap, tetapi tidak menghindarinya, sebaliknya, memujanya. Puisi-puisinya penuh harapan, seperti “peri kecil”, yang akan datang, mungkin di hari “rabu”. Sebut saja, orang selalu mempunyai harapan, sementara Rabu hanyalah salah satu dari sejumlah hari. Artinya, setiap hari orang selalu mempunyai harapan. Silakan menikmati 3 puisi Afnan berikut:.

 

Pada Lidahmu

kuakui pada lidahmu
luruh semua keluh
kata-katamu tajam. tak
ada lagi tepi luput tertikam
di lidahmu, tempatku tenggelam

pada lidahmu kuakui
sebanyak kata terucap. tak
ada lagi nyeri luput tertancap
di lidahmu, tempatku berharap

kuakui pada lidahmu, selalu
berharap kau julurkan. lalu
kutemui tempatku tenggelam

Jogja, 2022

 

Pemuja Gelap

kami duduk-duduk di beranda
berjarak di bangku-bangku
seperti kayu di tungku-tungku
merapat agar api segara menyala
kami saling menyilangkan kaki
berpandangan membuka hari

pernah, aku mengendap-endap
bersijingkat ingin menemuimu
peri pecilku menutur menahan lelap
kala itu. menembus malam menujuku

setarikan helaan nafas. aromanya
terhirup. Sekilas tampak aku gugup
tapi aku tak kuasa menembus gulita
katanya. Memandangku begitu redup

aku berbalik arah menghindari malam
yang pekat, memilih sendiri, diam
tak menemuimu. langkahku sesenti
saja mendekapmu. bercumbu lagi

aku tidak kuasa menmbus gelap
lanjut peri kecilku. di negeri kami
terang adalah penjaga. menatap
lurus padauk tak beringsut. kami
tetap duduk di bangku tak berdekap
peri kecilku mengunci hari kami
yang mulai meninggi. pemuja gelap
aku tepekur: kalian pemuja gelap

Jogja, 2021

 

Rabu Tercekat Haru

tunggulah rabu, kata peri kecilku
aku lupa kenapa rabu. waktuku
leluasa di hari rabu. sekira hujan
mengguyur kota membasahi badan
kita. akan larut, akan kuhangatkan

janji peri kecilku tak pernah alpa
rabu itu adalah waktu yang kujaga
hujan mnederas dari pagi buta
menjadi pelancong penyesak kota

tapi kubimbang, ia tak datang
kurapal sejumlah kata. ucapkan
saatku luput, peri kecilku riang
berdedang buatku ngelangut
lantunkan bila rindumu memagut

ho hi ya hi yo da tang da tang lah
pe ri ke cil ku
ho hi ya hi yo da tang da tang lah
pe ri ke cil ku
ho hi ya hi yo da tang da tang lah
pe ri ke cil ku
hingga malam tiba, hujan mereda
hening menyapa, sunyi mendera
kuingat nyaris kukupa, peri kecilku
sempat berkata buatku termangu

ada kalanya kau merasakan
kehilangan. hidup tidak sekadar
angan-angan: dadaku berdebar !

Jogja, 2021

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.