Category: Geguritan

Menyangga Keberagaman, Keselarasan, dan Kelestarian

Donny E. Saputra

Seringkali, kapan membaca puisi, terpaku pada tema-tema yang, seolah besar, dan jauh tak terjangkau. Puisi, seolah selalu (harus) transenden, tak boleh tampil remeh. Karena puisi dianggap sesuatu  yang serius. Puisi tak harus selalu seperti itu, ia boleh tampil secara jenaka, ‘seperti sepatu unta, warnanya senada sahara, tapi  dari kulit rusa. Yang jenaka bisa  ‘mengejutkan’ sekaligus…
Read more

Lies Wijayanti SW

Tanaman dan pekarangan, tampaknya menjadi perhatian Lies Wijayanti. Mungkin karena dia perempuan, dan suka merawat tanaman, mungkin juga pekarangan tempat tinggalnya ada banyak tanaman, sehingga saban hari ia bisa merawat tanaman, atau di kebun lain, kapan dia bepergian, hampir-hampir tak bisa dilepaskan, selalu menyentuh tanaman. Bukan hanya sekedar tanaman untuk keindahan, seperti tanaman bunga-bunga, tetapi…
Read more

Yuli Purwati

Tiga puisi Yuli ini, sebut saja hasil dari memasang perangkap disekitar tempat tinggalnya, yang penuh tanaman dan pepohonan, dan juga tak jauh dari persawahan. Lintasan2 yang lewat tidak dibiarkan menjadi gosip atau basa-basi belaka, melainkan ia format menjadi puisi. Memang belum begitu ketat dalam memilih kata, tetapi setidaknya upaya untuk menulis puisi tidak lelah terus…
Read more

Dharmadi

Puisi2 Dharmadi, seorang penyair yang sudah lama bergulat dengan puisi, dan sampai sekarang masih terus menulis puisi. Mungkin, puisi telah menjadi bagian dari hidupnya, yang tak bisa dilepaskan. Puisi2nya pendek2, hanya  4 atau 6 baris, yang dulu pernah dikenal sebagai puisi alit. Seolah, puisi2nya hanya menyampaikan kisah selintas, laiknya pandangan mata. Tetapi sebenarnya ia mencoba…
Read more

Sriyanti S. Sastroprayitno

Kenangan dan rindu seringkali mudah ditemukan dalam puisi. Suasana seperti itu, acapkali menyita perhatian, dan tertinggal di hati. Sriyanti, agaknya  sering terperangkap dalam kenangan, dan rasa rindu mengalir dalam imajinasinya. Kenangan dan rindu akan tempat, mengingat  kota atau  yang  pernah dikunjungi, dan sesuatu yang ada di tempat itu menyita perhatian, atau rute  yang sering dilewati…
Read more

Marlin Dinamikanto

Tiga puisi Marlin ini mengandung sindiran, sebagaimana sindiran tidak memiliki pretensi meonohok, tetapi memiliki suasana menggelikan, sehingga siapa yang membaca sindirannya bisa ikut tertawa. Ia tidak hanya menyindir pemerintah atau orang mapan lainnya, tetapi juga menyindir dirinya sendiri, menyindir hidupnya sendiri. Karena itu, puisi Marlin enak dan lucu dinikmati.

Heru Mugiarso

Tiga puisi Heru yang ditayang ini bertumpu pada empat hal: rindu, luka, cinta dan misteri, yang semuanya ada di dalam kehidupan. Namun, meski dalam suasana seperti itu, Heru tetap (terus) tersenyum. Karena meski luka dan rindu mengurungnya, senyum tak bisa dibuang. Bahkan baginya, ‘senyum adalah kosa kata’. Ia perlu, dan harus ada dalam hidup yang…
Read more

Sus S. Hardjono

Sus, demikian dia biasa dipanggil, biasanya menulis puisi lirik. Banyak puisi lirik yang dia publikasikan di sejumlah media, termasuk dalam antologi puisi bersama. Tapi kali ini dia mengirimkan puisinya yang bersifat naratif. Kalimatnya panjang-panjang dan tidak perlu menjaga rima. Karena puisi naratif, seolah seperti sedang berkisah. Tetapi tema yang disajikan sama, menyangkut kekawatiran, kecemasan, kenangan,…
Read more

Eddy Pranata PNP

Eddy Pranata, seorang penyair yang tinggal di Banyumas, menangkap kengerian hidup, bukan karena sedang mengalami bencana atau kecelakaan. Melainkan imajinasinya melayang jauh ke depan, sambil melihat dunia kecil sehari-hari, yang hampir-hampir tak bisa meninggalkan teknologi komunikasi, padahal usianya masih bocah. Sebagai penyair ia gelisah, dan menuliskannya dalam bentuk puisi, apa yang digelisahkannya itu.

Yuliani Kumudaswari

Puisi2 Yuliani seringkali menjanjikan suasana, seperti sepi, riang, duka indahnya alam dan lainnya. Kalaupun dia menulis menyangkut kesedihan, seperti puisi berjudul ‘Masa  Berkabung’ misalnya, rasa duka, sedih dibingkai suasana, sehingga dukanya terasa tak terlihat, meskipun dia menuliskan ‘kesedihan yang teronggok’ karena suasana alam membungkusnya, sehingga kesedihan tidak meremas hatinya.