Blog

Menyangga Keberagaman, Keselarasan, dan Kelestarian

Swasmi Purwajanti

Puisi Swasmi, yang menyajikan kisah menyangkut rindu, kenangan dan duka, yang ujungnya pada satu titik yang paling tinggi, yaitu Tuhan. Pengalaman personal menjadi awal dia menulis puisi, sehingga puisi2nya betul2 sangat personal. Seolah pembaca (hanya) diminta mendengar kisah personal. Padahal, apa yang dialami secara personal, seringkali juga dialami orang lain, dengan demikian yang personal tidak…
Read more

Marjuddin Suaeb

Ketika  muda dulu, Marjuddin seringkali menyusuri sudut-sudut kota Yogya, tetapi setelah memilih menetap di dusun, hal seperti itu tak dilakukannya lagi. Apalagi di masa pandemi ini, dia lebih banyak tinggal di rumah: ‘Lama tak mencari/Selama Pandemi/Tak Pernah Pergi/Meringding tiap dengar berita mati. Begitulah Marjuddin, menuls puisi menyangkut kenangan masa lalu, dan bagaimana persahabatan memiliki kualitas.…
Read more

W. Tanjung Files (Fileski)

Tanjung, agaknya, melalui tiga puisinya ini,  ingin mengungkapkan rasa bahagia, duka, kebosanan atau malah harapan, dengan cara bermain-main, sekaligus ingin serius, sehingga pilihan katanya terasa mengejutkan, namun juga menggelikan. Ia, Tanjung, ingin memberi imajinasi bahwa kebahagiaan bisa dinikmati, seperti ‘tawa di cangkir’. Kita tahu, minum secangkir kopi atau teh, bisa menyenangkan, terkadang rasa senang itu…
Read more

Donny E. Saputra

Seringkali, kapan membaca puisi, terpaku pada tema-tema yang, seolah besar, dan jauh tak terjangkau. Puisi, seolah selalu (harus) transenden, tak boleh tampil remeh. Karena puisi dianggap sesuatu  yang serius. Puisi tak harus selalu seperti itu, ia boleh tampil secara jenaka, ‘seperti sepatu unta, warnanya senada sahara, tapi  dari kulit rusa. Yang jenaka bisa  ‘mengejutkan’ sekaligus…
Read more

Lies Wijayanti SW

Tanaman dan pekarangan, tampaknya menjadi perhatian Lies Wijayanti. Mungkin karena dia perempuan, dan suka merawat tanaman, mungkin juga pekarangan tempat tinggalnya ada banyak tanaman, sehingga saban hari ia bisa merawat tanaman, atau di kebun lain, kapan dia bepergian, hampir-hampir tak bisa dilepaskan, selalu menyentuh tanaman. Bukan hanya sekedar tanaman untuk keindahan, seperti tanaman bunga-bunga, tetapi…
Read more

PENDEMI: TANTANGAN MANAJEMEN SENI PERTUNJUKAN

Oleh Kusen Alipah Hadi Isteri saya mulai sering ngomel sebab bosan, terkurung di rumah dan sekitar. Ia tidak bisa lagi jalan-jalan, menikmati pertunjukan secara langsung sebab pendemi Covid-19 belum usai. Akhirnya, kami bertiga (saya, istri, dan anak) sering hanya menghabiskan waktu di depan laptop dan “terpaksa” menikamati sajian pertunjukan online. Pendemi Covid-19 Seniman seni pertunjukan…
Read more

Yuli Purwati

Tiga puisi Yuli ini, sebut saja hasil dari memasang perangkap disekitar tempat tinggalnya, yang penuh tanaman dan pepohonan, dan juga tak jauh dari persawahan. Lintasan2 yang lewat tidak dibiarkan menjadi gosip atau basa-basi belaka, melainkan ia format menjadi puisi. Memang belum begitu ketat dalam memilih kata, tetapi setidaknya upaya untuk menulis puisi tidak lelah terus…
Read more

121 PURNAMA DI ANTARA 81 PENYAIR

Satu buku kumpulan puisi yang diberi judul “121 Purnama“ karya 81 penyair dari berbagai kota di Indonesia akan diluncurkan di Sastra Bulan Purnama edisi ke-121 pada hari Sabtu – 23 Oktober 2021, pukul 19.00 WIB, melalui zoom. Buku puisi ini untuk menandai 10 tahun Sastra Bulan Purnama. Acara terbuka untuk umum, dan bisa bergabung melalui…
Read more

Dharmadi

Puisi2 Dharmadi, seorang penyair yang sudah lama bergulat dengan puisi, dan sampai sekarang masih terus menulis puisi. Mungkin, puisi telah menjadi bagian dari hidupnya, yang tak bisa dilepaskan. Puisi2nya pendek2, hanya  4 atau 6 baris, yang dulu pernah dikenal sebagai puisi alit. Seolah, puisi2nya hanya menyampaikan kisah selintas, laiknya pandangan mata. Tetapi sebenarnya ia mencoba…
Read more

SELAMAT JALAN, KAWAN!

Gunawan Maryanto, Kusen Alipah Hadi, teman-teman Sanggar Anom, dan Bapak Guru Genthong HSA (In memoriam Gunawan “Cindhil” Maryanto; aktor, penulis, dan sutradara teater) Pukul 23.59 WIB, aku masih tidak bisa tidur setelah dapat mengakses HP. Barangkali karena perasaan kehilangan, barangkali mengaca diri melihat kondisi kesehatan diri, atau barangkali juga sedang menakar cara hidup teman-teman sekerja…
Read more